This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

20 April 2009

Suku Kajang Di Kab. Bulukumba

Suku Kajang atau yang lebih dikenal dengan Adat Ammatoa adalah sebuah suku yang terdapat pada kebudayaan sulawesi selatan Masyarakat Kajang di bisa di jumpai pada Kabupaten Bulukumba lebih tepatnya kecamatan kajang. Sebuah Suku Klasik yang masih kental akan adat istiadatnya yang sangat sakral.

Masyarakat adat Ammatoa tinggal berkelompok dalam suatu area hutan yang luasnya sekitar 50 km. Mereka menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi, kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Mungkin disebabkan oleh hubungan masyarakat adat dengan lingkungan hutannya yang selalu bersandar pada pandangan hidup adat yang mereka yakini.

Hitam merupakan sebuah warna adat yang kental akan kesakralan dan bila kita memasuki kawasan ammatoa pakaian kita harus berwarna hitam. Warna hitam mempunyai makna bagi Mayarakat Ammatoa sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan. tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta. Kesamaan dalam bentuk wujud lahir, menyikapi keadaan lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang harus di jaga keasliannnya sebagai sumber kehidupan.

Suku Kajang dalam lebih teguh memegang adat dan tradisi moyang mereka dibanding penduduk kajang luar yang tinggal di luar perkampungan. Rumah-rumah panggung yang semuanya menghadap ke barat tertata rapi, khususnya yang berada di Dusun Benteng tempat rumah Amma Toa berada. Tampak beberapa rumah yang berjejer dari utara ke selatan. Di depan barisan rumah terdapat pagar batu kali setinggi satu meter. Rumah Amma Toa berada beberapa rumah dari utara.

Dalam bahasa bugis Konjo yang kental merupakan bahasa suku yang selama ini sebagai media kkomunikasi antar sesama masyarakat suku kajang.

Rumah Adat Suku Kajang bila kita melihat secara fisik tidak jauh beda dengan rumah adat masayarakat bugis makassar struktur yang tinggi dan masih mempergunakan kekayaan hutan disekitar untuk membuatnya

Begitu banyak Kebudayaan yang dimiliki oleh Masyarakat Bugis Makassar sudah sepantasnya lah kita melestarikan kebudayaan tersebut. Suku Kajang salah satu dari sekian banyaknya budaya nusantara yang masih kental akan adat istiadatnya.

Sumber : http://lagaligo.net dan http://www.syamsoe.com

Asal Mula Toraja

Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan “tangga dari langit” untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa).

Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo Cina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari luwu. Orang Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.

Sejarah Aluk

Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua.

Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni: Tipamulanna Aluk ditampa dao langi’ yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit, Mendemme’ di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi’ dirura.
Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo Cina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.

Beberapa Tokoh penting daiam penyebaran aluk, antara lain: Tomanurun Tambora Langi’ adalah pembawa aluk Sabda Saratu’ yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Selain daripada itu terdapat Aluk Sanda Pitunna disebarluaskan oleh tiga tokoh, yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu’ menuju bagian barat Tana Toraja yakni ke Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, derngan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja “To Unnirui’ suke pa’pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata. Kemudian Pasontik bersama Burake Tambolang menuju ke daerah-daerah sebelah
timur Tana Toraja, yaitu daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta’bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : “To Unnirui’ suku dibonga, To unkandei kandean pindan”, yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.
Tangdilino bersama Burake Tangngana ke daerah bagian tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial “To unniru’i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan”, Tangdilino diketahui menikah dua kali, yaitu dengan Buen Manik, perkawinan ini membuahkan delapan anak. Perkawinan Tangdilino dengan Salle Bi’ti dari Makale membuahkan seorang anak. Kesembilan anak Tangdilino tersebar keberbagai daerah, yaitu Pabane menuju Kesu’, Parange menuju Buntao’, Pasontik ke Pantilang, Pote’Malla ke Rongkong (Luwu), Bobolangi menuju Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, Bue ke daerah Duri, Bangkudu Ma’dandan ke Bala (Mangkendek), Sirrang ke Dangle.

Itulah yang membuat seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo arti harfiahnya adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan
Matahari”. Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja.

Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar atau bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat tersebut

Sumber : http://lagaligo.net

Cerita Rakyat Toraja Datu Manili’ ( Landorundun)

Menurut penuturan lisan orang Toraja khususnya bagi para bangsawan khususnya di Kecamatan Sa’dan Balusu’ dan Sesean bahwa Londorundun yang bergelar “Datu Manili”, adalah seorang putri yang cantik jelita yang memiliki rambut panjang dengan ukuran 17 depah 300 jengkal atau dalam Bahasa Toraja “Sang pitu da’panna, Talluratu’ Dangkananna”. Gadis jelita ini dipersunting oleh seorang raja dari Kabupaten Bone yang bernama “Datu Bendurana”.
Bukti sejarahnya adalah sebuah buku besar yang modelnya persis dengan sebuah kapal dikawal oleh dua batu kecil yang modelnya seperti perahu berada di Sungai Sa’dan di desa Malango’ (Rantepao) sebelah kanan jembatan Malango’ yang menurut cerita leluhur secara turun-temurun adalah kapal milik Datu Bendurana yang datang mencari dan menyelidiki Datu Manili (Londorundun). Mereka dipertemukan dalam jodoh dan oleh sebab itu orang Bone tidak boleh berselisih dengan orang Toraja, karena mereka mempunyai “Basse” atau “Perjanjian”. Salah satu saudara kandung Londorundun adalah “Puang Bualolo” kawin ke wilayah Sa’dan, dan menjadi leluhur pemilik Museum Londorundun yang terletak di Desa Tallunglipu, kompleks Bolu-Rantepao.

06 April 2009

PROSESI PERNIKAHAN ADAT BUGIS MAKASSAR

Prosesi pernikahan yang dipakai oleh masyarakat Bugis-Makassar. Prosesi pernikahan ini dipertunjukkan di halaman Benteng Fort Rotterdam dan disaksikan oleh puluhan warga asing yang ikut Dalam acara Pasar Wisata TIME. Prosesinya antara lain Mappacci, Mappettu Ada, Pabbaji, dan sebagainya. Selain itu para peserta TIME juga disuguhi aneka makanan tradisional dari Makassar.

Pabbajikang
Ini adalah gambar dimana mempelai pria dan wanita disatukan dalam satu sarung. prosesi ini diberi nama pabbajikang. Yaitu prosesi yang mempertemukan kedua mempelai untuk pertama kalinya sebelum bersanding di pelaminan. Pabbajikang melambangkan status antara mempelai wanita dan pria yang sudah halal untuk satu sama lain. Biasanya salah satu orang yang dituakan seperti dalam gambar [yang memakai baju putih-red] membimbing kedua mempelai untuk menyentuh bagian tertentu seperti ubun-ubun, pipi dan bahu. dalam adat bugis, prosesi ini dinamakan Mappasikarawa.

Rombongan Erang-erang
Iring-iringan pengantin dalam baju bodo kuning yang bersiap menuju kediaman mempelai wanita. Masing-masing membawa hadiah yang akan diberikan sebagai persembahan atau erang-erang untuk pengantin wanita. Biasanya erang-erang tersebut berisi seperangkat alat sholat, sepatu, emas, kosmetik dan sebagainya. Rombongan gadis pembawa erang-erang umumnya terdiri dari 12 orang gadis remaja dan dikawal oleh keluarga pengantin pria.

Warren&Joyce
mereka adalah Warren Whittaker dan Joycelyn Hill yang ikut menyaksikan pagelaran adat perkawinan Makassar. Menurut mereka acara pernikahan di Makassar sangat unik dengan berbagai macam warna pakaian yang cerah. Berbeda dengan yang sering dilihatnya di lingkungannya di Sydney Australia. Joy baru empat bulan berada di Indonesia dan tidak merasa takut dengan berbagai macam pemberitaan yang sering ditemuinya di media massa. "yang salah adalah orang yang berbuat bukan Indonesianya" demikian kata Joyce ketika ditanya soal beberapa peristiwa peledakan yang menewaskan warga Australia.

Passompoa
Passompa adalah salah satu bagian penting dalam prosesi perkawinan. Passompa berarti dipanggulnya salah seorang anggota keluarga mempelai wanita yang termuda.

Paduan Suara Makassar
Ini adalah Paduan Suara Mahasiswa dari Universitas Hasanuddin. Mereka membawakan lagu-lagu daerah Sulawesi Selatan dalam pakaian adat Tanah Toraja.

12 March 2009

Asal Nama Makassar

Menyambut usia ke-400 tahun (09 Nopember 2007), Kota Makassar masih terbilang muda jika dibandingkan sejarah nama Makassar yang jauh menembus masa lampau. Tapi tahukah Anda muasal dan nilai luhur makna nama Makassar itu?

Tiga hari berturut-turut Baginda Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri KaraEng Katangka yang merangkap Tuma'bicara Butta ri Gowa (lahir tahun 1573), bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh Butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya.
Bersamaan di malam ketiga itu, yakni malam Jum'at tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H atau tanggal 22 September 1605 M. (Darwa rasyid MS., Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV s/d XIX, hal.36), di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Nampak sesosok lelaki menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu ternyata melakukan sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda KaraEng Katangka. Di pagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya.

Lelaki itu menjabat tangan Baginda Raja yang tengah kaku lantaran takjub. Digenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda "Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. Baginda terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda KaraEng Katangka lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.

Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda.

Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama "Makassar", yakni diambil dari nama "Akkasaraki Nabbiya", artinya Nabi menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di pantai Tallo itu adalah Abdul Ma'mur Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Dato' ri Bandang, berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat). Baginda Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonri KaraEng Katangka setelah memeluk Agama Islam kemudian bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam KaraEng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.

Lebih jauh, penyusuran asal nama "Makassar" dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:
  1. Makna. Untuk menjadi manusia sempurna perlu "Ampakasaraki", yaitu menjelmakan (menjasmanikan) apa yang terkandung dalam bathin itu diwujudkan dengan perbuatan. "Mangkasarak" mewujudkan dirinya sebagai manusia sempurna dengan ajaran TAO atau TAU (ilmu keyakinan bathin). Bukan seperti yang dipahami sebagian orang bahwa "Mangkasarak" orang kasar yang mudah tersinggung. Sebenarnya orang yang mudah tersinggung itu adalah orang yang halus perasaannya.
  2. Sejarah. Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama "Makassar". Abad ke-16 "Makassar” sudah menjadi ibu kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal oleh bangsa asing. Bahkan dalam syair ke-14 Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar telah tercantum.
  3. Bahasa. Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar berasal dati kata "Mangkasarak" yang terdiri atas dua morfem ikat "mang" dan morfem bebas "kasarak". Morfem ikat "mang" mengandung arti: a). Memiliki sifat seperti yang terkandung dalam kata dasarnya. b). Menjadi atau menjelmakan diri seperti yang dinyatakan oleh kata dasarnya. ­Morfem bebas "kasarak" mengandung (arti: a). Terang, nyata, jelas, tegas. b). Nampak dari penjelasan. c). Besar (lawan kecil atau halus).
Jadi, kata "Mangkasarak" Mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (Jujur). Sebagai nama, orang yang memiliki sifat atau karakter "Mangkasarak" berarti orang tersebut besar (mulia), berterus terang (Jujur). Sebagaimana di bibir begitu pula di hati.

John A.F. Schut dalam buku "De Volken van Nederlandsch lndie" jilid I yang beracara : De Makassaren en Boegineezen, menyatakan: "Angkuh bagaikan gunung-gunungnya, megah bagaikan alamnya, yang sungai­sungainya di daerah-daerah nan tinggi mengalir cepat, garang tak tertundukkan, terutama pada musim hujan; air-air terjun tertumpah mendidih, membusa, bergelora, kerap menyala hingga amarah yang tak memandang apa-apa dan siapa-siapa. Tetapi sebagaimana juga sungai, gunung nan garang berakhir tenang semakin ia mendekati pantai. Demikian pulalah orang Bugis dan Makassar, dalam ketenangan dapat menerima apa yang baik dan indah".

Dalam ungkapan "Akkana Mangkasarak", maksudnya berkata terus terang, meski pahit, dengan penuh keberanian dan rasa tanggung jawab. Dengan kata "Mangkasarak" ini dapatlah dikenal bahwa kalau dia diperlakukan baik, ia lebih baik. Kalau diperlakukan dengan halus, dia lebih halus, dan kalau dia dihormati, maka dia akan lebih hormat.

Sumber : http://makassarkota.go.id

03 March 2009

Wisata di Kota Makassar

Makasar, ibukota propinsi Sulawesi Selatan, memiliki banyak sekali objek wisata kota yang berupa bangunan dan tempat bersejarah maupun pantai-pantai indah yang dapat anda nikmati. Kota seluas 175,77 km² ini berpenduduk kurang lebih 1,25 juta jiwa dan terbagi menjadi 5 kecamatan, yaitu Makasar, Pinang Ranti, Halim Perdanakusuma, Cipinang Melayu, and Kebon Pala. Di kota ini hidup antara lain suku Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar serta suku- suku pendatang dengan suku bangsa Tionghoa sebgai komunitas pendatang terbesar.

Dimulai dari tepi laut, Pantai Losari adalah sebuah pantai yang amat terkenal dan menjadi kebanggaan masyarakat Makassar. Pantai ini menawarkan pemandangan senja dan sunset yang sangat indah. Di kawasan Losari banyak toko emas dan souvenir yang terletak di Jalan Somba Opu. Hotel-hotel ternama juga berada di sekitar kawasan Pantai Losari. Selain Pantai Losari, anda juga bisa menikmati fasilitas pemandian alam dan olah raga air di Pantai Barombong. Pantai ini terkenal karena keunikannya sebagai pantai berpasir hitam.

Di Kota Makassar bagian utara terdapat pelabuhan tradisional bernama Paotere. Pelabuhan tradisional ini adalah bukti peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo abad ke 14. Dari pelabuhan ini pula sekitar 200 armada Perahu Phinisi diberangkatkan menuju Malaka. Hingga saat ini Pelabuhan tradisional Paotere masih dipakai sebagai pelabuhan perahu rakyat seperti Phinisi dan Lambo dan masih berfungsi sebagai pusat niaga nelayan tradisional.

Beranjak ke tengah kota, anda dapat mengujungi Benteng Ujung Pandang atau yang sering disebut Fort Rotterdam yang juga peninggalan Kerajaan Gowa. VOC membangunnya kembali setelah mengalahkan kerajaan Gowa dan menamainya Fort Rotterdam. Saat ini Fort Rotterdam dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata dan sering digunakan untuk mengadakan pagelaran seni budaya.

Di dalam kompleks Fort Rotterdam, terdapat Museum La Galigo yang merupakan replika pusat pemerintahan kerajaan Gowa. Di dalamnya, museum La Galigo menyimpan banyak peninggalan kerajaan Gowa. Salah satu yang terkenal adalah naskah sastra yang tertulis diatas lembaran lontar sebanyak 3500 lembar berjudul I La Galigo. I La Galigo dinobatkan sebagai naskah lontar terpanjang yang pernah ada dalam sejarah Indonesia. Museum La Galigo sekarang berada dibawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Satu lagi benteng bersejarah yang ada di kota Makasar, yaitu Benteng Somba Opu. Benteng yang dibangun mengelilingi kompleks Kerajaan Gowa dibangun pada abad ke-XV oleh Raja Gowa ke-X Tunipallangga. Benteng ini berbentuk persegi empat dengan dinding setebal 12 kaki. Di bagian Baluwara Agung inilah ditempatkan sebuah meriam terbesar yang pernah dimiliki oleh kerajaan di Indonesia pada jaman kolonial. Meriam yang dijuluki "Anak Makassar" ini berbobot 9.500 kg dengan panjang 6 meter dan berdiameter atau berkaliber 41,5 cm.

Wisata kota mengunjungi bangunan-banguna bersejarah dapat anda lanjutkan ke Masjid Al-Markaz Al-Islami. Masjid ini adalah tempat ibadah dan Pusat pengembangan Agama Islam yang terbesar dan termegah di Asia Tenggara. Al-Markaz Al-Islami memiliki lima menara dan salah satu menara menjulang hingga 87 meter. Selain masjid Al-Markaz Al-Islami, terdapat juga Masjid bergaya Arab kuno yang dibangun pada tahun 1907. Hingga sekarang masjid tersebut masih mempertahankan fungsinya yang dulu sebagai tempat ibadah.

Yang terakhir, anda dapat mengunjungi beberapa makam orang-orang yang pernah mengukir sejarah lokal maupun nasional. Makam Pangeran Diponegoro yang wafat pada tanggal 8 Januari 1855 dimakamkan di sebuah kompleks pemakaman keluarga di Jalan Diponegoro, Makassar. Selain itu, kota ini juga menyimpan Kompleks Makam Raja-raja Tallo yang dibangun sekitar abad ke-18. Di sini terdapat makam Raja Tallo ke VII, I Malingkaang Daeng Manyonri yang merupakan raja pertama yang memeluk Agama Islam. (Rob/310308)

Sumber: Dari berbagai sumber

Makam Raja Tallo


Di Provinsi Sulawesi Selatan banyak dijumpai berbagai peninggalan sejarah yang berupa benteng, monumen, masjid, makam dan bangunan-bangunan tua lainnya. Salah satu diantaranya adalah makam raja-raja Tallo. Kompleks makam ini terletak di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, sekitar 7 kilometer di sebelah utara kota Makassar. Kompleks makam yang dibangun sekitar abad ke-17 ini merupakan tempat pemakaman raja-raja Tallo abad ke-17 hingga abad ke-19. Kerajaan Tallo dahulu adalah merupakan bagian dari kerajaan Gowa. Namun, pada masa pemerintahan Raja Gowa VI (Tunatangkalopi), kerajaan Gowa dibagi menjadi dua (Gowa dan Tallo) dan diserahkan kepada kedua puteranya. Kedua kerajaan baru tersebut kemudian membentuk suatu persekutuan yang kekuasaannya sangat berpengaruh di wilayah Indonesia bagian timur.

Pada tahun 1974/1975 dan 1981/1982 kompleks makam raja-raja Tallo dipugar oleh pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bangunan makam yang dipugar hingga mendekati bentuk aslinya ini sekarang tampak asri, tertata apik dengan pepohonan yang rindang, dan dapat dijadikan sebagai suatu obyek wisata budaya.

Komplek makam raja-raja Tallo
Komplek makam raja-raja Tallo berada di sudut sebelah timur laut dalam lingkup benteng Tallo yang luasnya sekitar 9.225 meter persegi. Namun, benteng Tallo itu saat ini hanya dapat ditemui sisa-sisanya saja pada sisi barat, utara dan selatan. Sedangkan, di dalam areal benteng, kecuali makam, telah dijadikan sebagai lahan hunian penduduk setempat.

Makam raja-raja Tallo yang berjumlah sekitar 78 buah itu dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu: (1) tipe susun-timbun, yakni tipe makam yang berbentuk susunan balok batu berbentuk persegi, sehinggga hampir menyerupai bentuk susunan candi-candi di Jawa yang terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Tipe makam yang dahulu disebut dengan istilah jiret semu ini merupakan tipe makam yang umum dijumpai di daerah Sulawesi Selatan, yang biasanya diperuntukkan bagi raja, pejabat atau pembesar istana; (2) tipe papan batu, yakni tipe makam yang dibuat seperti model bangunan kayu berbentuk empat persegi panjang, namun bahannya terbuat dari pasangan empat bilah papan batu; dan (3) tipe kubah, yakni bangunan berongga yang berdiri di atas batur empat persegi dengan atap kubah yang terdiri dari empat bidang lengkung ke dalam. Bangunan makam tipe kubang ini selain di Sulawesi Selatan, dapat dijumpai pula di daerah Timor dan Tidore.

Sedangkan, ragam hias pada ketiga tipe makam tersebut cukup bervariasi, yang diantaranya adalah: medalion, tumpal, panel persegi berisi ukiran dengan pola geometris, tumbuhah/daun/kelopak bunga/suluran yang distilir, pemasangan cawan atau piring keramik pada panel hias atau pada dinding-dinding cungkup makam, dan kaligrafi.

Dari ke-78 makam di Tallo ini, baru sekitar 20 makam yang dapat diidentifikasi, antara lain: makam Sultan Mudhafar (Raja Tallo ketujuh), Karaeng Sinrinjala (saudara Sultan Mudhafar), Syaifuddin (Sultan kesebelas), Siti Saleha (Raja Tallo keduabelas), La Oddang Riu Daeng Mangeppe (Sultan keenambelas) dan I Malingkaang Daeng Manyonri (Raja Tallo pertama yang memeluk agama Islam). Raja Daeng Manyori, yang mendapat julukan Macan Keboka ri Tallo (Macan Putih dari Talo) dan Karaeng Tuammalianga ri Tomoro (Raja yang berpulang di Timur) ini, sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Buton, Ternate dan Palu. (ali gufron)

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Benteng Ujung Pandang atau Ford Rotterdam

Saksi Sejarah Tentang Ketangguhan Kerajaan Gowa

Ujung Pandang dikenal dengan nama Ford Rotterdam, sejak lama telah menjadi salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi di Makasar, Sulawesi Selatan. Hingga kini, Benteng Ujung Pandang masih tetap berdiri dengan kokoh, dan merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah masa lalu tentang strategi pertahanan kerajaan Gowa yang luput dari kehancuran. Benteng ini telah menjadi saksi sejarah kebesaran salah satu kerajaan di nusantara, Kerajaan Gowa, walau akhirnya harus jatuh ke tangan Belanda dan Jepang.

Benteng Ujung Pandang semula dibangun pada tahun 1545 M, pada masa Pemerintahan Gowa ke-10, I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung (Karaeng Tunipalangga). Pada tahun 1634 tembok benteng ini ditata kembali atas perintah Raja Gowa ke-14, I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin. Pada tahun 1667 Benteng Ujung Pandang jatuh ke tangan Belanda, setelah kerajaan Gowa kalah dalam perang Makasar dan dipaksa menandatangani ”Perjanjian Bongaya” (Het Bongaisch Verdrag – 18 November 1667). Belanda kemudian mengubah benteng ini dari bentuk segi empat dikelilingi liam bastion, menjadi berbentuk trapesium dengan tambahan satu bastion di sisi barat. Di dalam benteng ini dibuat unit-unit bangunan bergaya gotik. Nama benteng diubah menjadi Fort Rotterdam nama kota tempat kelahiran Gubernur Jendral Belanda, Cornelis Speelman.

Penamaan Benteng Ujung Pandang karena letaknya berada pada sebuah tanjung/ujung yang banyak ditumbuhi pohon pandan. Benteng ini apabila dilihat dari udara bentuknya menyerupai seekor penyu, itulah sebabnya di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat Gowa menyebutnya Benteng Pannyua (penyu).

Dari segi fungsinya, dapat dikatakan pada zaman Kerajaan Gowa, Benteng Ujung Pandang berfungsi sebagai benteng pertahanan yang di dalamnya terdapat bangunan khas Makasar. Kemudian oleh Belanda dibongkar yang kemudian diubah menjadi bangunan berarsitektur Belanda yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan, benteng ini juga merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian kerajaan, juga pada saat dikuasai Belanda. Namun di zaman kependudukan Jepang berubah fungsi sebagai pusat penelitian ilmiah, utamanya bahasa dan pertanian. Hingga saat ini, Benteng Fort Rotterdam dijadikan sebagai pusat perkantoran di antaranya Museum La Galio, Suaka Peninggalan Sejarah, Dewan Kesenian Makasar, dan sebagai Pusat Olah Seni.

Tidak jauh dari lokasi ini terdapat objek wisata yang tak kalah menariknya yakni Pantai Losari. Di tempat ini Anda dapat menikmati sunset sambil mencicipi makana khas Kota Makasar, seperti: pisang epek, palli buntung, ikan bakar, pallu basa, pallu kaloa, sop kepala ikan dan coto mangkasarak. Selain itu, tidak jauh dari tempat ini pula terdapat tempat penyebrangan ke Pulau Kayangan. Dengan menaiki perahu tradisional sekitar dua pulu lima menit, Anda telah ke pulau yang memiliki panorama pantai yang amat menawan. Tersedia fasilitas penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam, menyelami suasana laut nusantara di pulau ini.

Sumber : Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan

Pesona Makassar


Pantai Losari
Mari kita telusuri dari tepi laut, yakni Pantai Losari. Pantai ini amat terkenal dan menjadi kebanggaan masyarakat Makassar. Dulu, pantai yang panjangnya satu kilometer ini pernah dijuluki pantai dengan meja terpanjang di dunia. Karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang tanggul pantai.

Pantai ini memiliki keistimewaan dan keunikan yang sangat memesona. Ditemani deburan ombak yang memecah tanggul pantai dan kesejukan angin sepoi-sepoi, pengunjung dapat menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari di satu posisi yang sama hingga menghilang dibalik cakrawala.

Di sebelah selatan anjungan pantai terdapat kafe dan restoran terapung yang menggunakan perahu tradisional ‘Phinisi’. Di tempat itu anda dapat menikmati berbagai macam makanan tradisional Bugis-Makassar sambil mengakses internet secara gratis melalui hotspot di sepanjang Pantai Losari.

Pantai Tanjung Bunga
Pantai yang berjarak tiga kilometer dari Pantai Losari ini memiliki dermaga, namun tidak difungsikan sebagaimana layaknya dermaga sungguhan. Kawasan rekreasi ini lebih dikenal dengan Akkarena. Selain berenang dan menikmati tenggelamnya matahari di waktu senja, Anda dapat bersantai di pinggir dermaga sambil menikmati cemilan dan minuman ringan. Pantai ini cukup sunyi di luar weekend dan letaknya sedikit tersembunyi. Tepat bagi Anda yang menginginkan kesendirian.

Benteng Ujung Pandang
Beranjak ke tengah kota, Anda dapat mengunjungi Benteng Ujung Pandang atau yang sering disebut Fort Rotterdam. Situs ini adalah peninggalan Kerajaan Gowa. Dibangun pada 1545 oleh raja Gowa X yang bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung. Ia dikenal juga dengan nama Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Bentuk dasar benteng ini adalah kotak besar seperti seekor penyu, dengan gaya arsitektur Portugis yang di buat dari bahan tanah liat. Modelnya sama dengan benteng di Eropa diabad ke-16. Dibangun kembali oleh VOC setelah mengalahkan kerajaan Gowa.

Di dalam kompleks Fort Rotterdam, terdapat Museum La Galigo yang merupakan replika pusat pemerintahan kerajaan Gowa. Salah satu yang terkenal adalah naskah sastra yang tertulis diatas lembaran lontar sebanyak 3500 lembar berjudul I La Galigo. I La Galigo dinobatkan sebagai naskah lontar terpanjang yang pernah ada dalam sejarah Indonesia.

Benteng Somba Opu
Benteng bersejarah yang lain adalah Somba Opu. Dibangun pada abad ke-15 oleh Raja Gowa IX. Namanya Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna. Bahannya dari tanah liat dan putih telur, sebagai pengganti semen. Pada pertengahan abad ke-16 Benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa.

Benteng ini berbentuk persegi empat dengan dinding setebal 12 kaki. Di dalam benteng ditempatkan sebuah meriam terbesar yang pernah dimiliki oleh kerajaan di Indonesia pada jaman kolonial. Meriam yang dijuluki “Anak Makassar” ini berbobot 9.500 kg dengan panjang 6 meter dan berdiameter atau berkaliber 41,5 cm.

Pelabuhan Paotere
Sekitar tiga kilometer arah utara kota, anda dapat mengunjungi Pelabuhan Rakyat Tempo Dulu. Namanya Paotere. Legenda kemasyhuran Paotere membuat Makassar yang sempat bernama Macassar maupun Jungpandang ini ramai dibicarakan orang.

Pada abad ke-17. Jejak-jejak ketangguhan pelaut Makassar masih dapat kita jumpai di kawasan Paotere yang hingga kini masih menjadi pusat sandar kapal nelayan dari berbagai daerah.

Denyut aktifitas pelelangan ikan di Pelabuhan Paotere sudah ramai sejak dinihari. Aktivitas bongkar muat serta keriuhan nelayan menjajakan hasil tangkapannya menjadi pemandangan cukup unik. Bila senja menjelang, pemandangan di pelabuhan ini akan lebih indah lagi dengan panorama matahari tenggelam yang memancarkan warna-warni sebagai latar belakangnya.

Makam Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro, anak dari Sultan Hamngkubuwono III, yang wafat pada 8 Januari 1855 dimakamkan di sebuah kompleks pemakaman keluarga di Jalan Diponegoro, Makassar. Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap Belanda dalam perang Jawa di tahun 1825 - 1830. Ditipu oleh Belanda kemudian dibuang ke Makassar hingga akhir hayatnya. Sebuah silsilah keluarga digambarkan di makam memperlihatkan bahwa keluarganya telah menetap di Makassar.

Makam Sultan Hasanuddin
Beranjak ke arah selatan kota, tepatnya di Sungguminasa, anda dapat berziarah ke makam ‘Ayam Jantan dari Timur’ Sultan Hasanuddin (1629-1690) yang terkenal dengan keberaniannya yang luar biasa dalam pertempuran melawan Belanda di Sulawesi Selatan. Tidak jauh dari makam tersebut terdapat sebuah mesjid berusia ratusan tahun yang dikenal dengan Masjid Tua Katangka. Dibangun pada 1605, sebagai pertanda awal masuknya Islam di kerajaan Gowa.

Sekitar satu kilometer dari masjid tua, terdapat kompleks makam Raja-raja Gowa dan keluarganya. Salahsatunya adalah makam tokoh pejuang dan ulama besar Syekh Yusuf al-Makassari. Ulama ini pernah dibuang oleh penjajah Belanda ke Cape Town, Afrika Selatan, hingga akhir hayatnya pada 23 Mei 1699 di usianya yang ke-73. Makam ulama yang bergelar ‘Taj al-Khalwatiyah Tuanta Salama” selalu ramai dikunjungi masyarakat Bugis-Makassar dengan hajat melepas nazar atau menyampaikan doa.

Pulau Samalona
Jika masih punya waktu, sebaiknya Anda mengunjungi beberapa pulau yang cukup dekat dengan kota Makassar. Di antaranya, Pulau Samalona. Pilau ini adalah tempat yang menyenangkan dan terkenal sebagai tempat untuk berenang dan menyelam, salah satu dari pulau-pulau koral di lepas pantai Makassar. Batu karang yang mengelilinginya berupa taman laut di bawah air mempunyai susunan koral dalam segala tipe dan warna warni yang indah dan berbagai rona warna yang sungguh mengagumkan dari ikan tropis dan kehidupan biota lautnya.

Pulau ini dulunya hanya diperuntukkan bagi kaum elit. Fasilitas saat ini tersedia bagi wisatawan yang ingin beristirahat malam di pulau tersebut. Untuk menuju pulau ini bisa menggunakan perahu nelayan (perahu dengan mesin tempel) dan memerlukan waktu tempuh tidak lebih dari setengah jam. Di pulau ini berdiri sebuah mercu suar yang digunakan sebagai tanda batas daratan bagi kapal-kapal berbadan besar.

Pulau Barrang Lompo
Dari Samalona, anda bisa meneruskan ke Pulau Barrang Lompo. Anda bisa menyaksikan taman laut yang sangat elok dan menarik. Diantara pulau disekitarnya hanya Barrang Lompolah yang mempunyai sumber mata air tawar menjadikan pulau ini banyak dihuni oleh nelayan, pelayar dan beberapa keluarga perajin perak tradisional.

Terakhir dalam perjalanan pulang dari pulau-pulau itu, jangan lupa mampir di Pulau Kayangan, dicapai 45 menit. Kayangan adalah pulau koral yang paling dekat dengan pelabuhan Makassar telah dikembangkan sebagai pusat rekreasi. Ia merupakan tempat bersantai yang terkenal bagi penduduk kota Makassar dan sekitarnya. Di akhir pekan, pertunjukan dan hiburan khusus selalu diprogramkan untuk menghibur para pengunjung. Perahu penyeberangan telah diatur secara berjadwal untuk mengantar pengunjung ke pulau dan membawanya kembali ke kota. Pulau-pulau lain yang juga tak kalah eloknya, adalah Pulau Kodingareng, Pulau Barrang Caddi.

Makam Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa ke-16 yang sangat terkenal dengan keberaniannya melawan kolonial Belanda di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, ia dijuluki oleh penjajah Belanda sebagai Haanstjes van Het Oosten atau Ayam Jago dari Benua Timur. Ia lahir pada tahun 1629 dan diangkat menjadi Raja Gowa pada tahun 1652 ketika ia berusia 23 tahun. Ia menjadi Raja Gowa selama 17 tahun hingga tahun 1669. Pada usia 41 tahun, tepatnya tanggal 12 Mei 1670, Sultan Hasanuddin wafat. Ia dimakamkan di komplek pemakaman raja-raja Gowa. Di atas makamnya, tertera nama I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Mohammad Bakir Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri balla Pangkana yang merupakan nama gelar Sultan Hasanuddin. Di sebelah kiri depan komplek pemakaman terdapat sebuah batu “Tomanurung” atau disebut juga “Batu Pallantikan” sebagai tempat pelantikan raja-raja Gowa. Tidak jauh dari makam, terdapat sebuah masjid kuno yang dibangun pada tahun 1603.

Keistimewaan
Di makam Sultan Hasanuddin terdapat informasi tentang sejarah hidup Sultan Hasanuddin, seperti tanggal dan tahun kelahiran, nama gelar, masa jabatan, serta wafatnya di lokasi yang sama. Pengunjung dapat pula melihat 6 makam Raja Gowa terkenal lainnya, seperti Sultan Alauddin (raja yang giat menyebarkan agama Islam di Kerajaan Gowa) dan makam Raja Tallo.

Lokasi
Makam Sultan Hasanuddin terletak di komplek pemakaman di Jalan Palantika, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Komplek pemakaman Sultan Hasanuddin berada tidak jauh dari Sungguminasa, sekitar 8 km dari Kota Makassar. Untuk mencapai komplek pemakaman ini, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Di komplek pemakaman tersedia pelayanan jasa guide yang akan menjelaskan kepada para pengunjung tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan makam Sultan Hasanuddin.

Sumber : http://www.wisatamelayu.com

Pantai Losari Sangat Strategis

Diseluruh Indonesia, hanya ada satu pantai yang dapat menyaksikan sunrise dan sunset disatu titik berdiri yang sama. “Pantai itu yakni pantai Losari, Makasar”, begitu kata Jusuf Kalla Wakil Presiden RI mengatakan kepada saya sambil membanggakan pantai ini, satu saat yang lalu. Awalnya saya bingung dengan kenyataan ini. Posisi pantai yang memanjang Utara-Selatan ini memang bisa menyaksikan terbitnya dan terbenamnya matahari disatu posisi yang sama. Unik memang. Lepas dari itu, pantai Losari adalah salah satu pantai paling resik dan apik yang pernah saya datangi diseluruh Indonesia ini, dan hebatnya lagi pantai ini berada tepat dijantung kota besar. Membandingkan dengan beberapa bibir pantai kota kota besar di Jawa, jelas Losari paling top: bebas sampah dan nyaman dikunjungi. Sambil menulis ini saya membayangkan betapa bau dan kroditnya situasi di Tanjung Priok Jakarta, atau pelabuhan Perak di Surabaya. Tidak heran, dahulu ketika Ratu Elizabeth dari Inggris bertandang ke Jakarta (era 80 an) ia tidak mau turun dari mobil saat tiba di Tanjung Priok karena begitu shock dia dengan bau dan amburadulnya situasi dipelabuhan. Dia pikir, Tanjung Priok sama indahnya dengan Hongkong harbour . Kejadian ini menjadi “insiden protokoler” yang memalukan, tapi begitulah wajah pelabuhan di Jakarta.

Posisi pantai Losari sangat strategis dan menjadi bagian yang menyatu dengan suasana kota Makasar yang membentang sejauh kurang lebih 4 km. Pantai ini langsung dapat diakses dengan jalan utama protokol utama. Diseberang jalan bertumbuhan hotel dengan berbagai kelas. Sebut saja beberapa nama hotel yang lokasinya amat dekat dengan bibir pantai al: Hotel MGM, Hotel Losari Beach, Hotel Quality, Hotel Aryadutta, dan Hotel Aston. Untuk mid-budget traveller, bisa pilih Hotel Losari Beach, atau agak masuk sedikit kedalam jalan Joseph Latumahina, ada hotel kecil yang nyaman yakni Hotel Kenari. Saya sendiri suka Hotel Quality atau Hotel Losari Beach karena lokasinya oke, dan harganya tidak selangit.

Waktu paling ideal mengunjungi pantai Losari adalah sore hari antara jam 15.00 hingga jam 21.00. Banyak yang datang kemari untuk duduk duduk menikmati pantai yang bersih, jogging disepanjang pedestrian sejauh 500m, atau makan diwarung warung yang telah direlokasi oleh Pemda setempat (diujung paling selatan pantai). Tua muda akan datang kemari menikmati matahari terbenam disini sambil membelu makanan dari pedagang. Jika suka jogging, tempat ini juga sangat ideal. Udara bersih dan angin bertiup tanpa henti, matahari yang merah keemasan menyapu wajah manusia yang duduk bibir pantai.

Pedagang menjual aneka makanan mulai dari jajan ringan saja sekedar ganjal perut seperti bakso atau gorengan. Ada juga makanan khas Makasar seperti Coto atau aneka hidangan masakan laut dengan resep asli orang bugis. Sungguh enak!

Suasananya amat tertib dan aman, saya merasa nyaman disini. Tapi ada satu yang saya keluhkan yakni: pengamen. Mereka ngeyel, tidak bisa ditolak untuk tidak menyanyi. Jadi semacam paksaan saja mendengarkan mereka menyanyi, dan suka memaksa dengan sindiran jika tidak diberi uang. Mereka mengamen tidak Cuma sendirian, tapi datang dengan sekelompok teman yang sama sama bernyanyi dengan nada (maaf saja ya) tidak bagus. Kenyamanan pantai ini berkurang minus satu poin hanya gara gara kehadiran pengamen yang tidak tau aturan dan main paksa ini. Ada baiknya pemda dan aparat melakukan penyuluhan agar kenyamanan di Losari tidak tercemar gara gara gerombolan pengamen macam begini.

Sumber : http://liburan.info

Wisata di Samalona


A. Selayang Pandang
Pulau Samalona merupakan gugusan pulau karang yang berbentuk bundar dengan luas 2,34 hektar. Pulau kecil ini merupakan salah satu tujuan wisata bahari yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pasirnya yang putih dan airnya yang jernih menjadikan pulau ini cocok untuk berjemur. Selain itu, kawasan pulau ini sangat bagus untuk menyelam (diving), karena di sekelilingnya terdapat karang-karang laut yang dihuni beraneka ragam ikan tropis yang berwarna-warni, dan biota laut lainnya.
Waktu yang paling baik untuk berwisata di Pulau Samalona adalah pada bulan Februari sampai Oktober.

B. Keistimewaan
Pulau ini menyimpan sejuta misteri tentang karamnya sejumlah kapal peninggalan Perang Dunia Ke-II. Ada sekitar 7 buah kapal yang karam di kawasan pulau ini, di antaranya: kapal Maru, kapal perang milik Jepang yang karam pada kedalaman sekitar 30 meter; kapal Lancaster Bomber yang juga karam pada kedalaman sekitar 30 meter; kapal selam pemburu (gunboat) milik Jepang; kapal kargo Hakko Maru buatan Belanda; serta kapal selam milik Jepang. Kapal-kapal yang karam tersebut telah berubah wujud menjadi karang dan menjadi “rumah” atau “tempat tinggal” bagi ratusan biota laut yang beraneka ragam bentuk, dan jenis serta warna yang sangat mengagumkan. Keindahan inilah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk datang berenang di antara bangkai-bangkai kapal karam tersebut.
Selain misteri dan keindahan taman lautnya, para wisatawan juga dapat menyaksikan matahari terbit (sunrise) dan terbenamnya matahari (sunset) pada satu posisi yang sama. Di pulau ini, wisatawan juga dapat menikmati kelezatan berbagai macam seafood segar yang dimasak dengan cara yang cukup unik, yaitu diletakkan di atas tempurung kelapa kemudian ditutupi dengan daun pohon yang tumbuh di sekitar pulau. Dengan cara demikian, aroma asap arang tempurung kelapa tersebut segera tercium dan dapat menggugah selera makan.

C. Lokasi
Pulau Samalona termasuk ke dalam wilayah Kota Makassar, tepatnya di Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

D. Akses
Pulau Samalona berjarak sekitar 6,8 km dari Kota Makassar, dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 - 30 menit dengan menggunakan speed boat berkapasitas maksimal 12 orang dengan biaya berkisar antara Rp. 250.000,00 sampai Rp. 350.000,00 pulang-pergi.

E. Akomodasi dan Fasilitas
Di lokasi ini tersedia penginapan sederhana berbentuk rumah pangggung yang dapat menampung sekitar 20 orang dengan tarif antara Rp. 150.000,00 hingga Rp. 250.000,00/rumah/malam. Selain itu, juga tersedia beberapa warung makan yang menyediakan aneka ragam seafood segar, dengan harga berkisar antara Rp.15.000,00 sampai Rp. 20.000,00/porsi.

Sumber : http://www.wisatamelayu.com

02 March 2009

Bugis - Makassar

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata ‘Makassar’? Sebagian besar mungkin akan menjawab; BUSER, PATROLI, tawuran mahasiswa, perkelahian antar-kampung, kasar, kriminal, dan yang sejenisnya. Sebagian lain mungkin akan menjawab; PSM, Pantai Losari, Kapal Phinisi, Sultan Hasanuddin, dan ikon-ikon lain yang dimiliki daerah ini. Dan sangat diragukan akan ada yang menjawab; keberanian, keuletan perantau, ketinggian budaya maritim, atau mungkin prinsip untuk tidak membiarkan kesalahan merajalela.

Apapun pendapat anda, mungkin itulah gambaran subyektif yang jujur tentang sebuah daerah yang dulu punya sejarah manis tentang peradaban. Tidak dapat dipungkiri, citra Makassar (baca; Sulawesi Selatan) di masa sekarang ini sangat tidak dapat dibanggakan. Kalau meminjam idiom di Makassar sendiri, katanya orang Makassar itu pa’bambangang na tolo (cepat marah dan tolol; tidak menggunakan otak). Fakta di lapangan juga mendukung idiom lawas ini. Hampir tiap hari ada liputan tentang Makassar di berita kriminal TV swasta kita. Tapi, benarkah sejarah mengatakan hal yang sama? Apakah fenomena ini memang telah menjadi karakter orang Makassar? Semoga uraian berikut dapat sedikit memberi gambaran.

Kalau kita ingat-ingat lagi pelajaran sejarah waktu sekolah dulu, ada beberapa penggalan yang akan cukup membantu kita. Kita pasti ingat Sultan Hasanuddin yang dulu gigih menentang intervensi Belanda atas sistem perdagangan di tanah Sulawesi. Juga pemberontakan Kahar Muzakkar dan Andi Azis kepada pemerintahan Soekarno karena menganggap Soekarno lebih memperhatikan mantan KNIL daripada milisi rakyat. Ada juga Jenderal M. Yusuf yang membawa rahasia Supersemar sampai ajal karena beliau tidak ingin membahayakan persatuan bangsa. Tentang kebudayaan, mungkin kita tahu Perahu Phinisi yang legendaris dan mampu mencapai Madagaskar dan Eropa sana. Perkampungan Bugis-Makassar juga bisa ditemukan di hampir tiap pesisir Nusantara dan sekitarnya.

Seorang pakar kebudayaan Sulawesi Selatan berkebangsaan Perancis, Christian Pelras[1], mengatakan bahwa masyarakat Bugis-Makassar dikenal sebagai penganut agama Islam yang taat, serta pedagang sukses yang paling siap menghadapi perubahan yang cepat. Ini dimungkinkan dengan keberadaan beberapa ciri dalam tradisi mereka yang biasanya dianggap sebagai bentuk spesifik modernitas. Ciri itu antara lain: (1) melek huruf, orang Bugis selalu memperlihatkan kecintaan mereka pada tradisi, yang tidak saja dipelihara lewat tradisi lisan, tapi juga tercatat, mungkin sejak abad ke-14, dalam berjilid-jilid naskah tulisan tangan (lontara), yang disimpan banyak keluarga di hampir seluruh desa-desa orang Bugis di Sulawesi Selatan; (2) ekonomi berorientasi pertukaran, mungkin sejak nenek moyang mereka di abad-abad awal milenium pertama. Kita bisa berspekulasi kalau kemakmuran hasil perdagangan inilah yang melahirkan peradaban awal Bugis; (3) individualisme, mobilitas sosial dimungkinkan seseorang, dalam kondisi tertentu, disamakan dengan orang dari lapisan yang lebih tinggi, misalnya melalui prestasi individual sebagai orang berani (to-warani), orang kaya (to-sugi), orang pintar atau bijaksana (to-macca), orang yang religius (to-panrita). Karakter individualisme inilah yang mengarahkan mereka menjadi keras dan ulet, serta mendorong untuk memperbaiki kehidupan melalui tradisi merantau. Ciri-ciri ini juga mendorong mereka untuk selalu mengembangkan kebudayaan. Perahu Phinisi adalah hanya salah satu tonggak sejarah dari perkembangan teknologi pelayaran mereka yang panjang. Sebelumnya ada perahu Lambo, perahu bercadik, dan lain-lain. Mereka juga punya naskah I Lagaligo yang memuat perjalanan kebudayaan kerajaan-kerajaan di wilayah kekuasaan Kerajaan Makassar-Gowa maupun hubungan dengan kerajaan lain di Nusantara dan luar Nusantara. Hal ini mencatat Bugis-Makassar sebagai satu dari sedikit kebudayaan maritim yang mempunyai aksara sendiri. Karakter lain yang timbul sebagai akibat dari karakter terdahulu adalah sikap feodalisme dan harga diri yang kuat dipertahankan.

Dalam perkembangan selanjutnya, terutama dalam masa Orde Baru, terjadi pergeseran yang cukup memiriskan. Metode pembangunan sentralistik yang dipaksakan oleh Soeharto dan jajarannya telah mengebiri banyak hal baik di masyarakat Bugis-Makassar. Pada masa itu, perdagangan dipusatkan ke pelabuhan-pelabuhan di tanah Jawa sehingga pelabuhan Makassar tidak lagi menjadi pilihan. Komoditas pertanianpun ditentukan oleh pusat. Pengebirian ini berlangsung begitu lama sehingga sangat terasa dampaknya. Dampak yang paling terasa adalah berkembangnya jiwa pemberontak dan chauvinisme yang semakin mengakar. Pengganyangan etnis Cina pada tahun 1998 dan pencetusan Republik Sulawesi Merdeka pada tahun 1999 adalah contoh yang paling nyata dalam kasus ini.

Panasnya iklim dan kerasnya kehidupan pada masa Orde Baru dan setelahnya semakin menguatkan karakter ‘keras’ pada masyarakat dan kemudian menjurus kasar. Sifat individualisme, dengan empat ciri diatas, yang tetap menjadi salah satu parameter keberhasilan seseorang di masyarakat, menjadikan persaingan hidup semakin keras. Hal ini menyentuh hampir semua golongan masyarakat, tidak terkecuali mahasiswa. Perguruan Tinggi sebagai lembaga persiapan untuk memasuki kehidupan nyata pun didesain keras dan kasar. Ospek, sebuah ritual memasuki dunia kampus, tidak lepas dari skenario ini. Masih jelas dalam ingatan kita bagaimana tawuran mahasiswa menjadi sebuah bagian tidak terpisahkan dalam ritual Ospek mahasiswa di kampus-kampus Sulawesi Selatan.

Bila kita lihat lebih dalam, tawuran ini sebenarnya adalah salah satu metode yang diterapkan untuk menguatkan identitas kelompok masing-masing. Di kampus Mesin, kita menguatkan identitas dengan metode yang hampir sama; mencari musuh. Bedanya adalah, para SC kita mencari musuh bagi mahasiswa baru di kalangan mahasiswa baru sendiri dengan cara menekan habis-habisan sehingga sifat oportunis muncul. Implementasinya adalah di Camp, dengan cara yang sama namun suasana berbeda, kemudian dilanjutkan dengan koordinasi mengadakan kegiatan setelah Camp. Di Unhas dan kampus-kampus lain di Makassar, mereka juga menekan dan memunculkan sifat oportunis itu, tapi tujuannya adalah lebih kepada menimbulkan jiwa pemberontak pada apapun yang akan menekan mereka nantinya. Analoginya adalah sama dengan menahan air di bendungan agar bila saatnya nanti air dilepaskan bersamaan akan mempunyai daya yang lebih kuat. Implementasinya adalah dengan mencari musuh diluar komunitas mereka. Biasanya salah satu mahasiswa baru disuruh memukul mahasiswa fakultas lain (arogansi mereka adalah arogansi fakultas). Pada saat ini, air yang telah terkumpul di bendungan kemudian dilepaskan tiba-tiba sehingga muncullah tawuran itu. Hal ini, bila mereka menang, sekaligus merupakan pembuktian yang rill atas doktrin bahwa kelompok mereka adalah yang terbaik. Kalaupun kalah, mereka akan membalas kelompok yang mengalahkan itu untuk membuktikan superioritas mereka. Metode ini juga pernah diterapkan di ITS oleh Jurusan Teknik Mesin dan Teknik Elektro, tapi kemudian berhasil direduksi melalui pendekatan intelektual dan opini publik yang mencela hal ini.

Jadi, jelaslah bahwa setiap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat adalah gambaran perjalanan yang telah dilalui masyarakat tersebut, tidak terkecuali Bugis-Makassar. Apa yang terjadi di masyarakat Bugis-Makassar saat ini merupakan salah satu tonggak sejarah yang akan menentukan arah perkembangan kebudayaan mereka selanjutnya.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari perjalanan kebudayaan mereka antara lain;

* Sebuah karakter sosial-kolektif merupakan hasil dari perjalanan kebudayaan yang panjang dari sebuah kebudayaan kelompok.
* Sebaiknya kita jangan terlalu cepat menghakimi sebuah kelompok dengan identitas tertentu, karena hal itu bisa saja berubah nantinya, seperti juga Arek Mesin yang tidak lagi keras seperti dulu. Karakter sebuah kelompok dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga bisa berubah menjadi sama sekali lain dari sebelumnya. Kalau mau merubah karakter Arek Mesin, yakinlah hal itu bisa dilakukan.
* Sebuah hasil kebudayaan, misalnya Kapal Phinisi, Baju Khas Daerah, dan kebiasaan-kebiasaan kelompok, hanyalah merupakan hasil pemikiran dan bukan sesuatu yang terlalu sakral untuk bisa dirubah. Kalau hal tersebut memang pantas dirubah karena tidak lagi sesuai, jangan segan untuk merubahnya. Kalau sebuah kebudayaan memang mencerminkan pornografi dan pornoaksi, hal itu harus dirubah.

Sumber : http://kalajengkingair.blogspot.com

Karakteristik Aksara Bugis - Makassar

Kebudayaan diciptakan karena adanya kebutuhan (needs) manusia untuk mengatasi berbagai problem yang ada dalam kehidupan mereka. Melalui suatu proses berfikir yang diekspresikan kedalam berbagai wujud. Salah satu wujud kebudayaan manusia adalah TULISAN. Seperti halnya dengan wujud-wujud kebudayaan lainnya. Penciptaan tulisan pun diciptakan karena adanya kebutuhan manusia untuk mengabdikan hasil-hasil pemikiran mereka.

Menurut Coulmas, pada awalnya tulisan diciptakan untuk mencatatkan firman-firman tuhan, karena itu tulisan disakralkan dan dirahasiakan. Namun dalam perjalanan waktu dengan berbagai kompleksitas kehidupan yang dihadapi oleh manusia, maka pemikiran manusia pun mengalami perkembangan demikian pula dengan tulisan yang dijadikan salah satu jalan keluar untuk memecahkan problem manusia secara umumnya. Seperti yang dikatakan oleh Coulmas “a king of social problem solving, and any writing system as the comman solution of a number of related problem” (1989:15)
1. Alat Untuk Pengingat
2. Memperluas jarak komunikasi
3. Sarana Untuk memindahkan Pesan Untuk Masa Yang akan dating
4. Sebagai Sistem Sosial Kontrol
5. Sebagai Media Interaksi
6. Sebagai Fungsi estetik

Begitu pula yang terjadi pada kebudayaan di Indonesia. Ada beberapa suku bangsa yang memiliki huruf antara lain. Budaya Jawa, Budaya Sunda, Budaya Bali, Budaya Batak, Budaya Rejang, Budaya Melayu, Budaya Bugis Dan Budaya Makassar.

Disulawesi selatan ada 3 betuk macam huruf yang pernah dipakai secara bersamaan.
1. Huruf Lontaraq
2. Huruf Jangang-Jangang
3. Huruf Serang
Sementara bila ditempatkan dalam kebudayaan bugis, Lontaraq mempunyai dua pngertian yang terkandung didalamnya
a. Lontaraq sebagai sejarah dan ilmu pengetahuan
b. Lontaraq sebagai tulisan
Kata lontaraq berasal dari Bahasa Bugis/Makassar yang berarti daun lontar. Kenapa disebuat sebagai lontaraq ? karena pada awalnya tulisan tersebut di tuliskan diatas daun lontar. Daun lontar ini kira-kira memiliki lebar 1 cm sedangkan panjangnya tergantung dari cerita yang dituliskan. Tiap-tiap daun lontar disambungkan dengan memakai benang lalu digulung pada jepitan kayu, yang bentuknya mirip gulungan pita kaset. Cara membacanya dari kiri kekanan. Aksara lontara biasa juga disebut dengan aksara sulapaq eppaq

Karakter huruf bugis ini diambil dari Aksara Pallawa (Rekonstruksi aksara dunia yang dibuat oleh Kridalaksana)


Memang terdapat bebrapa varian bantuk huruf bugis di sulawesi selatan, tetapi itu tidaklah berarti bahwa esensi dasar dari huruf bugis ini hilang, dan itu biasa dalam setiap aksara didunia ini. Hanya ada perubahan dan penambahan sedikit yang sama sekali tidak menyimpang dari bentuk dasar dari aksara tersebut. Varian itu disebabkan antara lain
1. Penyesuaian antara bahasa dan bunyian yang diwakilinya.
2. Penyesuaian antara bentuk huruf dan sarana yang digunakan.

Sumber : http://lagaligo.net

Adat dan Kebudayaan Suku Bugis Di Sulawesi Selatan

Suku Bugis atau to Ugi‘ adalah salah satu suku di antara sekian banyak suku di Indonesia. Mereka bermukim di Pulau Sulawesi bagian selatan. Namun dalam perkembangannya, saat ini komunitas Bugis telah menyebar luas ke seluruh Nusantara.
Penyebaran Suku Bugis di seluruh Tanah Air disebabkan mata pencaharian orang–orang bugis umumnya adalah nelayan dan pedagang. Sebagian dari mereka yang lebih suka merantau adalah berdagang dan berusaha (massompe‘) di negeri orang lain. Hal lain juga disebabkan adanya faktor historis orang-orang Bugis itu sendiri di masa lalu.
Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari “dunia atas” yang “turun” (manurung) atau dari “dunia bawah” yang “naik” (tompo) untuk membawa norma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006).
Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya. Kata “Bugis” berasal dari kata to ugi, yang berarti orang Bugis.
Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We‘ Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu‘, ayahanda dari Sawerigading.
Sawerigading sendiri adalah suami dari We‘ Cudai dan melahirkan beberapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar. Sawerigading Opunna Ware‘ (Yang Dipertuan Di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo, dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton (Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis).
Peradaban awal orang–orang Bugis banyak dipengaruhi juga oleh kehidupan tokoh-tokohnya yang hidup di masa itu, dan diceritakan dalam karya sastra terbesar di dunia yang termuat di dalam La Galigo atau sure‘ galigo dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio dan juga tulisan yang berkaitan dengan silsilah keluarga bangsawan, daerah kerajaan, catatan harian, dan catatan lain baik yang berhubungan adat (ade‘) dan kebudayaan–kebudayaan di masa itu yang tertuang dalam Lontara‘. Tokoh–tokoh yang diceritakan dalam La Galigo, di antaranya ialah Sawerigading, We‘ Opu Sengngeng (Ibu Sawerigading), We‘ Tenriabeng (Ibu We‘ Cudai), We‘ Cudai (Istri Sawerigading), dan La Galigo(Anak Sawerigading dan We‘ Cudai).
Tokoh–tokoh inilah yang diceritakan dalam Sure‘ Galigo sebagai pembentukan awal peradaban Bugis pada umumnya. Sedangkan di dalam Lontara‘ itu berisi silsilah keluarga bangsawan dan keturunan–keturunannya, serta nasihat–nasihat bijak sebagai penuntun orang-orang bugis dalam mengarungi kehidupan ini. Isinya lebih cenderung pada pesan yang mengatur norma sosial, bagaimana berhubungan dengan sesama baik yang berlaku pada masyarakat setempat maupun bila orang Bugis pergi merantau di negeri orang.

Konsep Ade‘ (Adat) dan Spiritualitas (Agama)
Konsep ade‘ (adat) merupakan tema sentral dalam teks–teks hukum dan sejarah orang Bugis. Namun, istilah ade‘ itu hanyalah pengganti istilah–istilah lama yang terdapat di dalam teks-teks zaman pra-Islam, kontrak-kontrak sosial, serta perjanjian yang berasal dari zaman itu. Masyarakat tradisional Bugis mengacu kepada konsep pang‘ade‘reng atau “adat istiadat”, berupa serangkaian norma yang terkait satu sama lain.
Selain konsep ade‘ secara umum yang terdapat di dalam konsep pang‘ade‘reng, terdapat pula bicara (norma hukum), rapang (norma keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat), wari‘ (norma yang mengatur stratifikasi masyarakat), dan sara‘ (syariat Islam) (Mattulada, Kebudayaan Bugis Makassar : 275-7; La Toa). Tokoh-tokoh yang dikenal oleh masyarakat Bugis seperti Sawerigading, We‘ Cudai, La Galigo, We‘ Tenriabeng, We‘ Opu Sengngeng, dan lain-lain merupakan tokoh–tokoh yang hidup di zaman pra-Islam.
Tokoh–tokoh tersebut diyakini memiliki hubungan yang sangat erat dengan dewa–dewa di kahyangan. Bahkan diceritakan dalam La Galigo bahwa saudara kembar dari Sawerigading yaitu We‘ Tenriabeng menjadi penguasa di kahyangan. Sehingga konsep ade‘ (adat) serta kontrak-kontrak sosial, serta spiritualitas yang terjadi di kala itu mengacu kepada kehidupan dewa-dewa yang diyakini. Adanya upacara-upacara penyajian kepada leluhur, sesaji pada penguasa laut, sesaji pada pohon yang dianggap keramat, dan kepada roh-roh setempat menunjukkan bahwa apa yang diyakini oleh masyarakat tradisional Bugis di masa itu memang masih menganut kepercayaan pendahulu-pendahulu mereka.

Namun, setelah diterimanya Islam dalam masyarakat Bugis, banyak terjadi perubahan–perubahan terutama pada tingkat ade‘ (adat) dan spiritualitas. Upacara–upacara penyajian, kepercayaan akan roh-roh, pohon yang dikeramatkan hampir sebagian besar tidak lagi melaksanakannya karena bertentangan dengan pengamalan hukum Islam. Pengaruh Islam ini sangat kuat dalam budaya masyarakat bugis, bahkan turun-temurun orang–orang bugis hingga saat ini semua menganut agama Islam.
Pengamalan ajaran Islam oleh mayoritas masyarakat Bugis menganut pada paham mazhab Syafi‘i, serta adat istiadat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri. Budaya dan adat istiadat yang banyak dipengaruhi oleh budaya Islam tampak pada acara-acara pernikahan, ritual bayi yang baru lahir (aqiqah), pembacaan surat yasin dan tahlil kepada orang yang meninggal, serta menunaikan kewajiban haji bagi mereka yang berkemampuan untuk melaksanakannya.
Faktor-faktor yang menyebabkan masuknya Islam pada masyarakat Bugis kala itu juga melalui jalur perdagangan dan pertarungan kekuasaan kerajaan-kerajaan besar kala itu. Setelah kalangan bangsawan Bugis banyak yang memeluk agama Islam, maka seiring dengan waktu akhirnya agama Islam bisa diterima seluruh masyarakat Bugis. Penerapan syariat Islam ini juga dilakukan oleh raja-raja Bone, di antaranya napatau‘ matanna‘ tikka‘ Sultan Alimuddin Idris Matindroe‘ Ri Naga Uléng, La Ma‘daremmeng, dan Andi Mappanyukki.
Konsep–konsep ajaran Islam ini banyak ditemukan persamaannya dalam tulisan-tulisan Lontara‘. Konsep norma dan aturan yang mengatur hubungan sesama manusia, kasih sayang, dan saling menghargai, serta saling mengingatkan juga terdapat dalam Lontara‘. Hal ini juga memiliki kesamaan dalam prinsip hubungan sesama manusia pada ajaran agama Islam.
Budaya–budaya Bugis sesungguhnya yang diterapkan dalam kehidupan sehari–hari mengajarkan hal–hal yang berhubungan dengan akhlak sesama, seperti mengucapkan tabe‘ (permisi) sambil berbungkuk setengah badan bila lewat di depan sekumpulan orang-orang tua yang sedang bercerita, mengucapkan iyé (dalam bahasa Jawa nggih), jika menjawab pertanyaan sebelum mengutarakan alasan, ramah, dan menghargai orang yang lebih tua serta menyayangi yang muda. Inilah di antaranya ajaran–ajaran suku Bugis sesungguhnya yang termuat dalam Lontara‘ yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari–hari oleh masyarakat Bugis.

Manusia Bugis
Sejarah orang–orang Bugis memang sangat panjang, di dalam teks–teks sejarah seperti karya sastra La Galigo dan Lontara‘ diceritakan baik awal mula peradaban orang–orang Bugis, masa kerajaan–kerajaan, budaya dan spritualitas, adat istiadat, serta silsilah keluarga bangsawan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya dan adat istiadat ini harus selalu dipertahankan sebagai bentuk warisan dari nenek moyang orang–orang Bugis yang tentunya sarat nilai-nilai positif.
Namun saat ini ditemukan juga banyak pergeseran nilai yang terjadi baik dalam memahami maupun melaksanakan konsep dan prinsip-prinsip ade‘ (adat) dan budaya masyarakat Bugis yang sesungguhnya. Budaya siri‘ yang seharusnya dipegang teguh dan ditegakkan dalam nilai–nilai positif, kini sudah pudar. Dalam kehidupan manusia Bugis–Makassar, siri‘ merupakan unsur yang prinsipil dalam diri mereka. Tidak ada satu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi selain siri‘.
Bagi Manusia Bugis-Makassar, siri‘ adalah jiwa mereka, harga diri mereka, dan martabat mereka. Sebab itu, untuk menegakkan dan membela siri‘ yang dianggap tercemar atau dicemarkan oleh orang lain, maka manusia Bugis-Makassar bersedia mengorbankan apa saja, termasuk jiwanya yang paling berharga demi tegaknya siri‘ dalam kehidupan mereka.(Hamid Abdullah, Manusia Bugis-Makassar .37).
Di zaman ini, siri‘ tidak lagi diartikan sebagai sesuatu yang berharga dan harus dipertahankan. Pada prakteknya siri‘ dijadikan suatu legitimasi dalam melakukan tindakan–tindakan yang anarkis, kekerasan, dan tidak bertanggung jawab. Padahal nilai siri‘ adalah nilai sakral masyarakat bugis, budaya siri‘ harus dipertahankan pada koridor ade‘ (adat) dan ajaran agama Islam dalam mengamalkannya.
Karena itulah merupakan interpretasi manusia Bugis yang sesungguhnya. Sehingga jika dilihat secara utuh, sesungguhnya seorang manusia bugis ialah manusia yang sarat akan prinsip dan nilai–nilai ade‘ (adat) dan ajaran agama Islam di dalam menjalankan kehidupannya, serta sifat pang‘ade‘reng (adat istiadat) melekat pada pribadi mereka.
Mereka yang mampu memegang teguh prinsip–prinsip tersebut adalah cerminan dari seorang manusia Bugis yang turun dari dunia atas (to manurung) untuk memberikan keteladan dalam membawa norma dan aturan sosial di bumi.

Penulis: Alumnus Asrama Mahasiswa Kaltim “Mangkaliat” Jogjakarta, Anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Bone Yogyakarta (FKMB-Y) dan kuliah di Institut Sains & Teknologi AKPRIND Jogjakarta. Tinggal di Balikpapan.

Sumber : http://article.melayuonline.com

Pantai Losari

A. Selayang Pandang
Pantai Losari merupakan icon Kota Makassar. Dulu, pantai yang panjangnya kira-kira satu kilometer ini pernah dijuluki sebagai pantai dengan meja terpanjang di dunia, karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang tanggul pantai. Kini, warung-warung tersebut telah direlokasi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari kawasan wisata. Pemerintah Kota Makassar telah mempercantik pantai ini dengan membuat anjungan seluas 100 ribu meter persegi, sehingga tampak lebih indah, bersih, bebas polusi dan nyaman untuk dikunjungi. Obyek wisata ini paling ramai dikunjungi pada sore hari, antara jam 15.00 hingga jam 21.00 WITA.

B. Keistimewaan
Pantai Losari memiliki keunikan dan keistimewaan yang sangat mempesona. Salah satu keunikannya adalah para pengunjung dapat menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari di satu posisi yang sama. Keistimewaan obyek wisata ini adalah para pengunjung dapat menikmati indahnya deburan ombak yang memecah tanggul pantai dan kesejukan “angingmamiri” yang bertiup sepoi-sepoi, sambil menyaksikan detik-detik terbenamnya matahari secara utuh di balik cakrawala, yaitu mulai dari perubahan warna hingga pergeseran posisinya sampai benar-benar hilang dari pandangan.
Para pengunjung juga dapat menikmati berbagai macam makanan laut yang masih segar. Di sebelah selatan anjungan Pantai Losari, terdapat sebuah kafe dan restoran terapung yang menggunakan kapal tradisional Bugis-Makassar “Phinisi” dengan menu bervariasi, seperti masakan ikan pari, cumi-cumi dan lobster dengan harga berkisar antara Rp 7.500,- hingga Rp 25.000,- per porsi. Di samping itu, para pengungjung dapat mencicipi berbagai jenis makanan khas Kota Makassar, seperti pisang epek, pallu butung, pisang ijo, coto Makassar, sop konro, dan lain-lain. Keistimewaan lainnya adalah para pengunjung dapat mengakses internet secara gratis melalui hot spot di sepanjang Pantai Losari.

C. Lokasi
Pantai Losari berada tepat di jantung Kota Makassar, yaitu di Jalan Penghibur, yang terletak di sebelah barat kota Makassar, Sulawesi Selatan.

D. Akses
Letak Pantai Losari sangat strategis, sehingga mudah untuk diakses. Dari pelabuhan Sukarno Hatta Makassar, pantai ini dapat ditempuh sekitar 15 menit dengan mobil atau motor. Jika berangkat dari Bandara Udara Hasanuddin, dapat ditempuh sekitar 45 menit dengan menggunakan mobil atau motor.

E. Harga Tiket Masuk
Pantai Losari merupakan tempat rekreasi cuma-cuma (gratis) bagi masyarakat umum.

F. Akomodasi dan Fasilitas
Di sekitar obyek wisata tersedia berbagai jenis kendaraan, seperti: bus, taksi, dan becak yang siap mengantar para pengunjung berkeliling menikmati suasana Kota Makassar. Di sepanjang Jl. Penghibur juga tersedia fasilitas penginapan mulai dari wisma hingga hotel berbintang, restoran, kafe, rumah sakit, warung kopi, dan berbagai tempat hiburan lainnya, dan semuanya menghadap ke arah laut lepas. Di Jl. Somba Opu, tidak jauh dari obyek wisata, terdapat pusat perbelanjaan kerajinan emas dan souvenir khas Kota Makassar.

Sumber : http://www.wisatamelayu.com

Wisata Makassar

Sebagai kontras antara yang lama dan baru, perahu kayu berlayar diantara tanker raksasa modern dekat pantai di sepanjang pesisir Kota Makassar. Perjalanan 20 menit dengan becak dari pusat kota akan membawa anda ke pelabuhan Paotere. Di luar pelabuhan, aktivitas kota yang tersibuk di seluruh Makassar, pria dan wanita membeli dan menjual berbagai macam barang, dan anak kecil berlarian ke sana ke mari melambaikan tongkat dengan perahu kecil dan mobil di ujung talinya.

Di dalam pelabuhan, sebuah dok panjang yang dicadangkan untuk perahu Bugis yang besar (phinisi), pemandangan menakjubkan di galangan kapal dengan haluan yang berlekuk, mengarah ke atas dan tiang yang besar membentuk simetri yang sedap dipandang mata. Namun kapal kayu besar ini berada di sana tidak hanya sekedar untuk alasan keindahan, pekerja mereka bekerja keras mem bongkar dan menaikkan muatan. Pelaut telanjang kaki berjalan di gelondong kayu yang panjang - yang dulunya sebuah pohon - diantara dek kapal dan dok dengan keseimbangan yang sangat baik tanpa mengindahkan goyangan dari gelondong.

Kapal-kapal kecil tersebut merupakan bukti nyata dari karakter masyarakat Bugis dan Makasar yang asli. Sebuah keluarga menaikkan minyak dan air untuk kepulauan mereka yang terpencil berjarak sehari berlayar. Pelaut yang lain menceritakan pelayaran dari Sulawesi ke Timor dan yang lain menjalankan tugas rutin ke Sumatra. Dua pria bersarung dibalut kulit yang kelam, dengan bangga memperlihatkan awak kapalnya yang terdiri 4 anak perempuan dan istri mereka masyarakat yang gigih. Walaupun penampilannya keras, namun kehangatan dan persahabatan tetap terlihat meyakinkan bahwa setiap kapal akan mengundang anda untuk turut berlayar di pelayaran mereka selanjutnya. Kembali kekota, benteng Rotterdam (Fort Rotterdam) menandai peninggalan bersejarah kota. Dibangun pada tahun 1545 oleh kerajaan lokal Goa, Benteng Rotterdam yang letaknya di tepi laut direbut dan dibangun kembali pada tahun 1667 oleh Belanda. Dinding luar yang tebalnya 2 meter dan tinggi 7 meter membentuk kotak yang besar seperti seekor penyu. Di setiap sudut dan pintu utama dibuat benteng pertaha- nan yang menonjol ke luar dalam bentuk berlian, membuat benteng sulit ditundukkan sehingga Belanda dapat bertahan di sana selama ratusan tahun.

Hingga kini, benteng masih menjaga laut Makassar dan mempertontonkan contoh besar dari hasil renovasi arsitektur kolonial Belanda. Tempat itu juga merupakan pusat kebudayaan, musium hidup untuk Sulawesi Selatan.Di Makassar, bangunan peninggalan Belanda masih dapat ditemukan, walaupun beberapa bangunan tua yang indah diantaranya telah dihancurkan demi arsitektur modern. Walaupun demikian, rumah peninggalan Belanda bisa di temukan di jalan jalan sempit di pusat kota sekitar benteng Rotterdam. Dengan populasi Cina yang besar, kota ini juga memiliki banyak bangunan Cina termasuk empat kelenteng Buda yang berwarna warni.Di Kota Makassar, terdapat makam peninggalan dari satu pahlawan terbesar di Indonesia. Anak dari Sultan Jogjakarta, Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap Belanda dalam perang Jawa di tahun 1825 - 1830. Ditipu oleh Belanda kemudian dibuang ke Makassar hingga akhir hayatnya. Sebuah silsilah keluarga digambarkan di makam memperlihatkan bahwa keluarganya telah tinggal di Makassar.

Di sore hari, disepanjang pantai Losari anda akan menemukan suasana hangat dari warga kota beserta aktifitasnya. Disisi selatan anda bisa menemukan lokasi pujasera yang tertata di laguna Metro, dengan keharuman pisang epe dan ikan bakar memenuhi udara. Dalam suasana karnaval diantara warung makanan, penduduk Makassar bertemu di sini, duduk bersama teman-teman dan orang asing untuk menikmati makan malam. Makassar juga memiliki kehidupan malam yang ramai seperti klub malam, tempat karaoke dan tempat bermain bola sodok.Kerajinan tangan Toraja seperti ukiran tau tau dari kayu kecil, kotak bambu berukir, dan baki Toraja merupakan suvenir yang indah. Porselin antik dan belanga celadon dapat juga ditemukan, dan di jalan Sombu Opu, adalah tempat perhiasan emas dan perak.

Sulawesi menghasilkan dan mengekspor beberapa kopi terbaik di dunia, jadi melancong ke pabrik kopi kecil di Makassar tidak bisa dihindari. Di dalam pabrik, pekerja membungkus dan menggiling kopi Arabica dan Toraja. Bila anda memperlihatkan rasa tertarik, maka pekerja akan memberikan contoh kopi segar mereka yang terbaik untuk anda cicipi. Walaupun contoh itu gratis, anda akan terdorong untuk membeli setidak-tidaknya sekilo untuk perjalanan pulang - sebuah kenangan yang sedap dan harum akan pintu gerbang ke Timur.Makassar memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata, karena disamping sebagai pusat pengembangan dan perjyanan juga sekaligus , sebagai pintu gerbang di Kawasan Timur Indonesia. Kota Makassar banyak memiliki potensi wilayah, seni budaya dan sejarah yang dapat dikembangkan menjadi obyek dan days tarik wisata (ODTW).

Daftar nama-nama obyek/daya tarik wisata yang ada di Kota Makassar berdasarkan pengamatan di lapangan dan pengumpulan data dari beberapa instansi yang terkait seperti dari Kanwil Deparsenibud Propinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pariwisata Kota Makassar, Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan, dan Museum La Galigo.Menurut data eksisting trend perjalanan wisata dalam lingkup Kota Makassar oleh Dinas Pariwisata Kota Makassar tahun 1998/1999, menunjukkan bahwa ada 4 (empat) paket trend, perjalanan wisata yang disediakan yaitu; City Tour, Sight Seeing Tour, Sea Recreation, Journey/Adventure. Adapun bagian dari paket - paket tersebut adalah :

a. City Tour (perjalanan dalam Kota)- Benteng Ujung pandang (Fort Rotterdam) - Monumen Mandala - AI Markaz AI Islami- Masjid Raya- Makam Diponegoro - Balang Tonjong

b. Sight Seeing Tour (Menyaksikan keindahan) - Somba Opu Souvenir - Pantai Losari - Pelabuhan Pinisi Paotere - Makam Syech Yusuf (Tuanta Salamaka)

c. Sea Recreation (Perjalanan Wisata Bahari)

- Pulau Kayangan Jarak lokasi 2,5 mil (bisa dicapai 45 menit), Letak lokasi : Jl. Ujung Pandang, Kecamatan Ujung Pandang, Daya tarik untuk: berenang dan diving, panorama matahari terbenam, olah raga air, musik & pertunjukan, permainan anak-anak, akuarium

- Pulau Kodingareng Jarak lokasi 5 mil (60 menit), Letak lokasi : Kecamatan Ujung Tanah, Daya tarik diving, menemukan batu kayu, ikan hias, peninggalan Jepang

- Pulau Barrang Lompo, Jarak lokasi 7 mil (1 jam 30 menit), Letak lokasi di Kecamatan Ujung Tanah, Daya tarik : berenang, oseanorium, peninggalan Jepang

- Pulau Barrang Caddi, Jarak lokasi : 6 mil (1jam 15 menit), Letak lokasi Kecamatan Ujung Tanah Daya tarik berenang dan diving, oseanorium, peninggalan Jepang

- Tanjung Bunga, Jarak lokasi sekitar 3 kilometer (10 menit), Letak lokasi Kecamatan Tamalate, Daya tarik jet ski, atraksi hobbies

- Tanjung Merdeka, Jarak lokasi 3 kilometer (15 menit), Letak lokasi Kecamatan. Tamalate, Daya tarik volley pantai, memancing

- Pulau Lae-lae, Jarak lokasi : 1 mil (15 menit), Letak lokasi di Kec.amatan Ujung Pandang, Daya tarik pemandangan laut, panorama matahari terbenam, berenang, olah raga air - Pulau Lanjukang, Jarak lokasi sekitar 9 mil (1jam 45 menit), Letak lokasi Kecamatan Ujung Tanah

- Pulau Kodingareng Keke, Jarak lokasi sekitar 5 mil (60 menit), Letak lokasi di Kecamatan Ujung Tanah, Daya tarik untuk kegiatan menyelam, berenang, kerajinan kerang-kerangan

- Pulau Samalona, Jarak lokasi sekitar 3 mil (50 menit), Letak lokasi : Kec. Ujung Pandang, Daya tarik berenang, berjemur, matahari terbenam, biota laut, olahraga air

d. Journey/Adventure (Penelusuran/ petualangan) Perjalanan wisata dalam Kota menurut versi perusahaan biro/agen perjalanan wisata pada umumnya Kota Makassar hanya digunakan sebagai tempat transit sebelum menuju daerah tujuan wisata (DTW) yang ada diluar Kota Makassar.

Sesudah wisatawan tiba di Bandara Hasanuddin dan bertemu dengan pemandu wisata, langsung menuju Kota Makassar sambil menyaksikan pemandangan Kota, wisatawan kemudian makan siang direstoran, dan sesudah itu wisatawan langsung menuju daerah tujuan wisata yang ada di luar Kota Makassar, sesuai dengan paket yang dipilih. Sebagai pintu gerbang udara di kawasan Timur Indonesia, peranan Bandar Udara Internasional Hasanuddin menjadi tulang punggung sebagai pintu masuk wisatawan ke Makassar. Bandara ini melayani pener¬bangan domnestik dan Internasional, dan dapat didarati oleh Pesawat Jenis Boeing 747. T

erdapat setidaknya lebih dari 20 kali penerbangan dari dan ke Jakarta, yang dilayani oleh hampir seluruh Maskapai Pener¬bangan yang ada. Pengelolaan Banda Udara ini dibawah BUMN Angkasa Pura I.Bagi wisatawan yang melakukan perjalanan sendiri, tersedia fasilitas Taxi Resmi Bandara yang akan membawa anda ke Kota Makassar. Biaya sekali Jalan ke Kota, terbagi atas 3 Zona, yakni Zona I hingga Jembatan Tallo, biayanya Rp. 40.000, Zona II hingga Jalan Hertasning sebesar Rp. 45.000, dan Zona III hingga Jalan Cenderawasih sebesar Rp. 50.000. Bila tujuan anda di luar Zona ini, dapat dikonsultasikan di Loket Pendaftaran Taxi, di bagian Kedatangan Bandara Hasanuddin.

http://makassarkota.go.id

01 March 2009

Makassar Tempo Doloe

Makassar adalah sebuah kota di kawasan indonesia timur yang kaya akan budaya klasik dan pariwisatanya. postingan ini akan membawah kita beberapa tahun yang lalu mengenal Makassar tempo dulu dengan Picture dibawah ini :

Bolever Makassar Tahun 1920
Bolever Makassar Tahun 1920

Makassar Fort Rotterdam








Rumah Sakit Makassar Tahun 1920


Haven The Makassar 1920


Museum Celebes Makassar


Gouvernementswoning The Makassar 1900


Sumber : http://klasik-makassarku.blogspot.com