03 March 2009

Benteng Ujung Pandang atau Ford Rotterdam

Saksi Sejarah Tentang Ketangguhan Kerajaan Gowa


Ujung Pandang dikenal dengan nama Ford Rotterdam, sejak lama telah menjadi salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi di Makasar, Sulawesi Selatan. Hingga kini, Benteng Ujung Pandang masih tetap berdiri dengan kokoh, dan merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah masa lalu tentang strategi pertahanan kerajaan Gowa yang luput dari kehancuran. Benteng ini telah menjadi saksi sejarah kebesaran salah satu kerajaan di nusantara, Kerajaan Gowa, walau akhirnya harus jatuh ke tangan Belanda dan Jepang.

Benteng Ujung Pandang semula dibangun pada tahun 1545 M, pada masa Pemerintahan Gowa ke-10, I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung (Karaeng Tunipalangga). Pada tahun 1634 tembok benteng ini ditata kembali atas perintah Raja Gowa ke-14, I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin. Pada tahun 1667 Benteng Ujung Pandang jatuh ke tangan Belanda, setelah kerajaan Gowa kalah dalam perang Makasar dan dipaksa menandatangani ”Perjanjian Bongaya” (Het Bongaisch Verdrag – 18 November 1667). Belanda kemudian mengubah benteng ini dari bentuk segi empat dikelilingi liam bastion, menjadi berbentuk trapesium dengan tambahan satu bastion di sisi barat. Di dalam benteng ini dibuat unit-unit bangunan bergaya gotik. Nama benteng diubah menjadi Fort Rotterdam nama kota tempat kelahiran Gubernur Jendral Belanda, Cornelis Speelman.

Penamaan Benteng Ujung Pandang karena letaknya berada pada sebuah tanjung/ujung yang banyak ditumbuhi pohon pandan. Benteng ini apabila dilihat dari udara bentuknya menyerupai seekor penyu, itulah sebabnya di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat Gowa menyebutnya Benteng Pannyua (penyu).

Dari segi fungsinya, dapat dikatakan pada zaman Kerajaan Gowa, Benteng Ujung Pandang berfungsi sebagai benteng pertahanan yang di dalamnya terdapat bangunan khas Makasar. Kemudian oleh Belanda dibongkar yang kemudian diubah menjadi bangunan berarsitektur Belanda yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan, benteng ini juga merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian kerajaan, juga pada saat dikuasai Belanda. Namun di zaman kependudukan Jepang berubah fungsi sebagai pusat penelitian ilmiah, utamanya bahasa dan pertanian. Hingga saat ini, Benteng Fort Rotterdam dijadikan sebagai pusat perkantoran di antaranya Museum La Galio, Suaka Peninggalan Sejarah, Dewan Kesenian Makasar, dan sebagai Pusat Olah Seni.

Tidak jauh dari lokasi ini terdapat objek wisata yang tak kalah menariknya yakni Pantai Losari. Di tempat ini Anda dapat menikmati sunset sambil mencicipi makana khas Kota Makasar, seperti: pisang epek, palli buntung, ikan bakar, pallu basa, pallu kaloa, sop kepala ikan dan coto mangkasarak. Selain itu, tidak jauh dari tempat ini pula terdapat tempat penyebrangan ke Pulau Kayangan. Dengan menaiki perahu tradisional sekitar dua pulu lima menit, Anda telah ke pulau yang memiliki panorama pantai yang amat menawan. Tersedia fasilitas penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam, menyelami suasana laut nusantara di pulau ini.

Sumber : Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan

1 komentar:

Mas,izin copas buat di blog saya,ya...

Post a Comment