This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Wisata Alam. Show all posts
Showing posts with label Wisata Alam. Show all posts

08 November 2010

Perahu Pinisi

Sejak dahulu, suku Bugis di Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelaut yang ulung. Mereka sangat piawai dalam mengarungi lautan dan samudera luas hingga ke berbagai kawasan di Nusantara dengan menggunakan perahu Pinisi.

Perahu Pinisi termasuk alat transportasi laut tradisional masyarakat Bugis yang sudah terkenal sejak berabad-abad yang lalu. Menurut cerita di dalam naskah Lontarak I Babad La Lagaligo, Perahu Pinisi sudah ada sekitar abad ke-14 M. Menurut naskah tersebut, Perahu Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu. Bahan untuk membuat perahu tersebut diambil dari pohon welengreng (pohon dewata) yang terkenal sangat kokoh dan tidak mudah rapuh. Namun, sebelum pohon itu ditebang, terlebih dahulu dilaksanakan upacara khusus agar penunggunya bersedia pindah ke pohon lainnya. Sawerigading membuat perahu tersebut untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

Singkat cerita, Sawerigading berhasil memperistri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di Tiongkok, Sawerigading rindu kepada kampung halamannya. Dengan menggunakan perahunya yang dulu, ia berlayar ke Luwu. Namun, ketika perahunya akan memasuki pantai Luwu, tiba-tiba gelombang besar menghantam perahunya hingga pecah. Pecahan-pecahan perahunya terdampar ke 3 (tiga) tempat di wilayah Kabupaten Bulukumba, yaitu di Kelurahan Ara, Tana Beru, dan Lemo-lemo. Oleh masyarakat dari ketiga kelurahan tersebut, bagian-bagian perahu itu kemudian dirakit kembali menjadi sebuah perahu yang megah dan dinamakan Perahu Pinisi.

Hingga saat ini, Kabupaten Bulukumba masih dikenal sebagai produsen Perahu Pinisi, dimana para pengrajinnya tetap mempertahankan tradisi dalam pembuatan perahu tersebut, terutama di Keluharan Tana Beru.

Keistimewaan
Ketika berada di Pusat Kerajinan Perahu Pinisi di Tana Beru, para pengunjung akan berdecak kagum melihat kepiawaian para pengrajinnya membuat Perahu Pinisi. Mereka mampu membuat perahu yang sangat kokoh dan megah hanya berdasarkan pada pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari nenek moyang mereka, tanpa menggunakan gambar atau kepustakaan tertulis. Sejarah membuktikan bahwa Perahu Pinisi Nusantara telah berhasil berlayar ke Vancouver Kanada, Amerika Serikat, pada tahun 1986. Oleh karena kepiawaian para pengrajin tersebut, Kabupaten Bulukumba dijuluki sebagai Butta Panrita Lopi, yaitu bumi atau tanah para ahli pembuat Perahu Pinisi.

Pembuatan Perahu Pinisi cukup unik, karena proses pembuatannya memadukan keterampilan teknis dengan kekuatan magis. Tahap pertama dimulai dengan penentuan hari baik untuk mencari kayu (bahan baku). Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke-5 dan ke-7 pada bulan yang sedang berjalan. Angka 5 menyimbolkan naparilimai dalle‘na, yang berarti rezeki sudah di tangan, sedangkan angka 7 menyimbolkan natujuangngi dalle‘na, yang berarti selalu mendapat rezeki. Tahap selanjutnya adalah menebang, mengeringkan dan memotong kayu. Kemudian kayu atau bahan baku tersebut dirakit menjadi sebuah perahu dengan memasang lunas, papan, mendempulnya, dan memasang tiang layar. Tahap terakhir adalah peluncuran perahu ke laut.

Tiap-tiap tahap tersebut selalu diadakan upacara-upacara adat tertentu. Sebelum perahu Pinisi diluncurkan ke laut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara maccera lopi (mensucikan perahu) yang ditandai dengan pemyembelihan binatang. Jika Perahu Pinisi itu berbobot kurang dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor kambing, dan jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor sapi.

Lokasi Pusat Kerajinan Perahu Pinisi terletak di Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.

Akses
Tana Beru sebagai Pusat Kerajinan Perahu Pinisi terletak sekitar 176 kilometer dari Kota Makassar atau 23 kilometer dari Kota Bulukumba. Perjalanan dari Kota Bulukumba ke Tana Beru dapat ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi maupun angkutan umum berupa pete-pete (mobil mikrolet).
Sumber : http://wisatamelayu.com

03 March 2009

Wisata di Kota Makassar

Makasar, ibukota propinsi Sulawesi Selatan, memiliki banyak sekali objek wisata kota yang berupa bangunan dan tempat bersejarah maupun pantai-pantai indah yang dapat anda nikmati. Kota seluas 175,77 km² ini berpenduduk kurang lebih 1,25 juta jiwa dan terbagi menjadi 5 kecamatan, yaitu Makasar, Pinang Ranti, Halim Perdanakusuma, Cipinang Melayu, and Kebon Pala. Di kota ini hidup antara lain suku Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar serta suku- suku pendatang dengan suku bangsa Tionghoa sebgai komunitas pendatang terbesar.

Dimulai dari tepi laut, Pantai Losari adalah sebuah pantai yang amat terkenal dan menjadi kebanggaan masyarakat Makassar. Pantai ini menawarkan pemandangan senja dan sunset yang sangat indah. Di kawasan Losari banyak toko emas dan souvenir yang terletak di Jalan Somba Opu. Hotel-hotel ternama juga berada di sekitar kawasan Pantai Losari. Selain Pantai Losari, anda juga bisa menikmati fasilitas pemandian alam dan olah raga air di Pantai Barombong. Pantai ini terkenal karena keunikannya sebagai pantai berpasir hitam.

Di Kota Makassar bagian utara terdapat pelabuhan tradisional bernama Paotere. Pelabuhan tradisional ini adalah bukti peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo abad ke 14. Dari pelabuhan ini pula sekitar 200 armada Perahu Phinisi diberangkatkan menuju Malaka. Hingga saat ini Pelabuhan tradisional Paotere masih dipakai sebagai pelabuhan perahu rakyat seperti Phinisi dan Lambo dan masih berfungsi sebagai pusat niaga nelayan tradisional.

Beranjak ke tengah kota, anda dapat mengujungi Benteng Ujung Pandang atau yang sering disebut Fort Rotterdam yang juga peninggalan Kerajaan Gowa. VOC membangunnya kembali setelah mengalahkan kerajaan Gowa dan menamainya Fort Rotterdam. Saat ini Fort Rotterdam dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata dan sering digunakan untuk mengadakan pagelaran seni budaya.

Di dalam kompleks Fort Rotterdam, terdapat Museum La Galigo yang merupakan replika pusat pemerintahan kerajaan Gowa. Di dalamnya, museum La Galigo menyimpan banyak peninggalan kerajaan Gowa. Salah satu yang terkenal adalah naskah sastra yang tertulis diatas lembaran lontar sebanyak 3500 lembar berjudul I La Galigo. I La Galigo dinobatkan sebagai naskah lontar terpanjang yang pernah ada dalam sejarah Indonesia. Museum La Galigo sekarang berada dibawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Satu lagi benteng bersejarah yang ada di kota Makasar, yaitu Benteng Somba Opu. Benteng yang dibangun mengelilingi kompleks Kerajaan Gowa dibangun pada abad ke-XV oleh Raja Gowa ke-X Tunipallangga. Benteng ini berbentuk persegi empat dengan dinding setebal 12 kaki. Di bagian Baluwara Agung inilah ditempatkan sebuah meriam terbesar yang pernah dimiliki oleh kerajaan di Indonesia pada jaman kolonial. Meriam yang dijuluki "Anak Makassar" ini berbobot 9.500 kg dengan panjang 6 meter dan berdiameter atau berkaliber 41,5 cm.

Wisata kota mengunjungi bangunan-banguna bersejarah dapat anda lanjutkan ke Masjid Al-Markaz Al-Islami. Masjid ini adalah tempat ibadah dan Pusat pengembangan Agama Islam yang terbesar dan termegah di Asia Tenggara. Al-Markaz Al-Islami memiliki lima menara dan salah satu menara menjulang hingga 87 meter. Selain masjid Al-Markaz Al-Islami, terdapat juga Masjid bergaya Arab kuno yang dibangun pada tahun 1907. Hingga sekarang masjid tersebut masih mempertahankan fungsinya yang dulu sebagai tempat ibadah.

Yang terakhir, anda dapat mengunjungi beberapa makam orang-orang yang pernah mengukir sejarah lokal maupun nasional. Makam Pangeran Diponegoro yang wafat pada tanggal 8 Januari 1855 dimakamkan di sebuah kompleks pemakaman keluarga di Jalan Diponegoro, Makassar. Selain itu, kota ini juga menyimpan Kompleks Makam Raja-raja Tallo yang dibangun sekitar abad ke-18. Di sini terdapat makam Raja Tallo ke VII, I Malingkaang Daeng Manyonri yang merupakan raja pertama yang memeluk Agama Islam. (Rob/310308)

Sumber: Dari berbagai sumber

Pesona Makassar


Pantai Losari
Mari kita telusuri dari tepi laut, yakni Pantai Losari. Pantai ini amat terkenal dan menjadi kebanggaan masyarakat Makassar. Dulu, pantai yang panjangnya satu kilometer ini pernah dijuluki pantai dengan meja terpanjang di dunia. Karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang tanggul pantai.

Pantai ini memiliki keistimewaan dan keunikan yang sangat memesona. Ditemani deburan ombak yang memecah tanggul pantai dan kesejukan angin sepoi-sepoi, pengunjung dapat menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari di satu posisi yang sama hingga menghilang dibalik cakrawala.

Di sebelah selatan anjungan pantai terdapat kafe dan restoran terapung yang menggunakan perahu tradisional ‘Phinisi’. Di tempat itu anda dapat menikmati berbagai macam makanan tradisional Bugis-Makassar sambil mengakses internet secara gratis melalui hotspot di sepanjang Pantai Losari.

Pantai Tanjung Bunga
Pantai yang berjarak tiga kilometer dari Pantai Losari ini memiliki dermaga, namun tidak difungsikan sebagaimana layaknya dermaga sungguhan. Kawasan rekreasi ini lebih dikenal dengan Akkarena. Selain berenang dan menikmati tenggelamnya matahari di waktu senja, Anda dapat bersantai di pinggir dermaga sambil menikmati cemilan dan minuman ringan. Pantai ini cukup sunyi di luar weekend dan letaknya sedikit tersembunyi. Tepat bagi Anda yang menginginkan kesendirian.

Benteng Ujung Pandang
Beranjak ke tengah kota, Anda dapat mengunjungi Benteng Ujung Pandang atau yang sering disebut Fort Rotterdam. Situs ini adalah peninggalan Kerajaan Gowa. Dibangun pada 1545 oleh raja Gowa X yang bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung. Ia dikenal juga dengan nama Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Bentuk dasar benteng ini adalah kotak besar seperti seekor penyu, dengan gaya arsitektur Portugis yang di buat dari bahan tanah liat. Modelnya sama dengan benteng di Eropa diabad ke-16. Dibangun kembali oleh VOC setelah mengalahkan kerajaan Gowa.

Di dalam kompleks Fort Rotterdam, terdapat Museum La Galigo yang merupakan replika pusat pemerintahan kerajaan Gowa. Salah satu yang terkenal adalah naskah sastra yang tertulis diatas lembaran lontar sebanyak 3500 lembar berjudul I La Galigo. I La Galigo dinobatkan sebagai naskah lontar terpanjang yang pernah ada dalam sejarah Indonesia.

Benteng Somba Opu
Benteng bersejarah yang lain adalah Somba Opu. Dibangun pada abad ke-15 oleh Raja Gowa IX. Namanya Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna. Bahannya dari tanah liat dan putih telur, sebagai pengganti semen. Pada pertengahan abad ke-16 Benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa.

Benteng ini berbentuk persegi empat dengan dinding setebal 12 kaki. Di dalam benteng ditempatkan sebuah meriam terbesar yang pernah dimiliki oleh kerajaan di Indonesia pada jaman kolonial. Meriam yang dijuluki “Anak Makassar” ini berbobot 9.500 kg dengan panjang 6 meter dan berdiameter atau berkaliber 41,5 cm.

Pelabuhan Paotere
Sekitar tiga kilometer arah utara kota, anda dapat mengunjungi Pelabuhan Rakyat Tempo Dulu. Namanya Paotere. Legenda kemasyhuran Paotere membuat Makassar yang sempat bernama Macassar maupun Jungpandang ini ramai dibicarakan orang.

Pada abad ke-17. Jejak-jejak ketangguhan pelaut Makassar masih dapat kita jumpai di kawasan Paotere yang hingga kini masih menjadi pusat sandar kapal nelayan dari berbagai daerah.

Denyut aktifitas pelelangan ikan di Pelabuhan Paotere sudah ramai sejak dinihari. Aktivitas bongkar muat serta keriuhan nelayan menjajakan hasil tangkapannya menjadi pemandangan cukup unik. Bila senja menjelang, pemandangan di pelabuhan ini akan lebih indah lagi dengan panorama matahari tenggelam yang memancarkan warna-warni sebagai latar belakangnya.

Makam Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro, anak dari Sultan Hamngkubuwono III, yang wafat pada 8 Januari 1855 dimakamkan di sebuah kompleks pemakaman keluarga di Jalan Diponegoro, Makassar. Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap Belanda dalam perang Jawa di tahun 1825 - 1830. Ditipu oleh Belanda kemudian dibuang ke Makassar hingga akhir hayatnya. Sebuah silsilah keluarga digambarkan di makam memperlihatkan bahwa keluarganya telah menetap di Makassar.

Makam Sultan Hasanuddin
Beranjak ke arah selatan kota, tepatnya di Sungguminasa, anda dapat berziarah ke makam ‘Ayam Jantan dari Timur’ Sultan Hasanuddin (1629-1690) yang terkenal dengan keberaniannya yang luar biasa dalam pertempuran melawan Belanda di Sulawesi Selatan. Tidak jauh dari makam tersebut terdapat sebuah mesjid berusia ratusan tahun yang dikenal dengan Masjid Tua Katangka. Dibangun pada 1605, sebagai pertanda awal masuknya Islam di kerajaan Gowa.

Sekitar satu kilometer dari masjid tua, terdapat kompleks makam Raja-raja Gowa dan keluarganya. Salahsatunya adalah makam tokoh pejuang dan ulama besar Syekh Yusuf al-Makassari. Ulama ini pernah dibuang oleh penjajah Belanda ke Cape Town, Afrika Selatan, hingga akhir hayatnya pada 23 Mei 1699 di usianya yang ke-73. Makam ulama yang bergelar ‘Taj al-Khalwatiyah Tuanta Salama” selalu ramai dikunjungi masyarakat Bugis-Makassar dengan hajat melepas nazar atau menyampaikan doa.

Pulau Samalona
Jika masih punya waktu, sebaiknya Anda mengunjungi beberapa pulau yang cukup dekat dengan kota Makassar. Di antaranya, Pulau Samalona. Pilau ini adalah tempat yang menyenangkan dan terkenal sebagai tempat untuk berenang dan menyelam, salah satu dari pulau-pulau koral di lepas pantai Makassar. Batu karang yang mengelilinginya berupa taman laut di bawah air mempunyai susunan koral dalam segala tipe dan warna warni yang indah dan berbagai rona warna yang sungguh mengagumkan dari ikan tropis dan kehidupan biota lautnya.

Pulau ini dulunya hanya diperuntukkan bagi kaum elit. Fasilitas saat ini tersedia bagi wisatawan yang ingin beristirahat malam di pulau tersebut. Untuk menuju pulau ini bisa menggunakan perahu nelayan (perahu dengan mesin tempel) dan memerlukan waktu tempuh tidak lebih dari setengah jam. Di pulau ini berdiri sebuah mercu suar yang digunakan sebagai tanda batas daratan bagi kapal-kapal berbadan besar.

Pulau Barrang Lompo
Dari Samalona, anda bisa meneruskan ke Pulau Barrang Lompo. Anda bisa menyaksikan taman laut yang sangat elok dan menarik. Diantara pulau disekitarnya hanya Barrang Lompolah yang mempunyai sumber mata air tawar menjadikan pulau ini banyak dihuni oleh nelayan, pelayar dan beberapa keluarga perajin perak tradisional.

Terakhir dalam perjalanan pulang dari pulau-pulau itu, jangan lupa mampir di Pulau Kayangan, dicapai 45 menit. Kayangan adalah pulau koral yang paling dekat dengan pelabuhan Makassar telah dikembangkan sebagai pusat rekreasi. Ia merupakan tempat bersantai yang terkenal bagi penduduk kota Makassar dan sekitarnya. Di akhir pekan, pertunjukan dan hiburan khusus selalu diprogramkan untuk menghibur para pengunjung. Perahu penyeberangan telah diatur secara berjadwal untuk mengantar pengunjung ke pulau dan membawanya kembali ke kota. Pulau-pulau lain yang juga tak kalah eloknya, adalah Pulau Kodingareng, Pulau Barrang Caddi.

Pantai Losari Sangat Strategis

Diseluruh Indonesia, hanya ada satu pantai yang dapat menyaksikan sunrise dan sunset disatu titik berdiri yang sama. “Pantai itu yakni pantai Losari, Makasar”, begitu kata Jusuf Kalla Wakil Presiden RI mengatakan kepada saya sambil membanggakan pantai ini, satu saat yang lalu. Awalnya saya bingung dengan kenyataan ini. Posisi pantai yang memanjang Utara-Selatan ini memang bisa menyaksikan terbitnya dan terbenamnya matahari disatu posisi yang sama. Unik memang. Lepas dari itu, pantai Losari adalah salah satu pantai paling resik dan apik yang pernah saya datangi diseluruh Indonesia ini, dan hebatnya lagi pantai ini berada tepat dijantung kota besar. Membandingkan dengan beberapa bibir pantai kota kota besar di Jawa, jelas Losari paling top: bebas sampah dan nyaman dikunjungi. Sambil menulis ini saya membayangkan betapa bau dan kroditnya situasi di Tanjung Priok Jakarta, atau pelabuhan Perak di Surabaya. Tidak heran, dahulu ketika Ratu Elizabeth dari Inggris bertandang ke Jakarta (era 80 an) ia tidak mau turun dari mobil saat tiba di Tanjung Priok karena begitu shock dia dengan bau dan amburadulnya situasi dipelabuhan. Dia pikir, Tanjung Priok sama indahnya dengan Hongkong harbour . Kejadian ini menjadi “insiden protokoler” yang memalukan, tapi begitulah wajah pelabuhan di Jakarta.

Posisi pantai Losari sangat strategis dan menjadi bagian yang menyatu dengan suasana kota Makasar yang membentang sejauh kurang lebih 4 km. Pantai ini langsung dapat diakses dengan jalan utama protokol utama. Diseberang jalan bertumbuhan hotel dengan berbagai kelas. Sebut saja beberapa nama hotel yang lokasinya amat dekat dengan bibir pantai al: Hotel MGM, Hotel Losari Beach, Hotel Quality, Hotel Aryadutta, dan Hotel Aston. Untuk mid-budget traveller, bisa pilih Hotel Losari Beach, atau agak masuk sedikit kedalam jalan Joseph Latumahina, ada hotel kecil yang nyaman yakni Hotel Kenari. Saya sendiri suka Hotel Quality atau Hotel Losari Beach karena lokasinya oke, dan harganya tidak selangit.

Waktu paling ideal mengunjungi pantai Losari adalah sore hari antara jam 15.00 hingga jam 21.00. Banyak yang datang kemari untuk duduk duduk menikmati pantai yang bersih, jogging disepanjang pedestrian sejauh 500m, atau makan diwarung warung yang telah direlokasi oleh Pemda setempat (diujung paling selatan pantai). Tua muda akan datang kemari menikmati matahari terbenam disini sambil membelu makanan dari pedagang. Jika suka jogging, tempat ini juga sangat ideal. Udara bersih dan angin bertiup tanpa henti, matahari yang merah keemasan menyapu wajah manusia yang duduk bibir pantai.

Pedagang menjual aneka makanan mulai dari jajan ringan saja sekedar ganjal perut seperti bakso atau gorengan. Ada juga makanan khas Makasar seperti Coto atau aneka hidangan masakan laut dengan resep asli orang bugis. Sungguh enak!

Suasananya amat tertib dan aman, saya merasa nyaman disini. Tapi ada satu yang saya keluhkan yakni: pengamen. Mereka ngeyel, tidak bisa ditolak untuk tidak menyanyi. Jadi semacam paksaan saja mendengarkan mereka menyanyi, dan suka memaksa dengan sindiran jika tidak diberi uang. Mereka mengamen tidak Cuma sendirian, tapi datang dengan sekelompok teman yang sama sama bernyanyi dengan nada (maaf saja ya) tidak bagus. Kenyamanan pantai ini berkurang minus satu poin hanya gara gara kehadiran pengamen yang tidak tau aturan dan main paksa ini. Ada baiknya pemda dan aparat melakukan penyuluhan agar kenyamanan di Losari tidak tercemar gara gara gerombolan pengamen macam begini.

Sumber : http://liburan.info

Wisata di Samalona


A. Selayang Pandang
Pulau Samalona merupakan gugusan pulau karang yang berbentuk bundar dengan luas 2,34 hektar. Pulau kecil ini merupakan salah satu tujuan wisata bahari yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pasirnya yang putih dan airnya yang jernih menjadikan pulau ini cocok untuk berjemur. Selain itu, kawasan pulau ini sangat bagus untuk menyelam (diving), karena di sekelilingnya terdapat karang-karang laut yang dihuni beraneka ragam ikan tropis yang berwarna-warni, dan biota laut lainnya.
Waktu yang paling baik untuk berwisata di Pulau Samalona adalah pada bulan Februari sampai Oktober.

B. Keistimewaan
Pulau ini menyimpan sejuta misteri tentang karamnya sejumlah kapal peninggalan Perang Dunia Ke-II. Ada sekitar 7 buah kapal yang karam di kawasan pulau ini, di antaranya: kapal Maru, kapal perang milik Jepang yang karam pada kedalaman sekitar 30 meter; kapal Lancaster Bomber yang juga karam pada kedalaman sekitar 30 meter; kapal selam pemburu (gunboat) milik Jepang; kapal kargo Hakko Maru buatan Belanda; serta kapal selam milik Jepang. Kapal-kapal yang karam tersebut telah berubah wujud menjadi karang dan menjadi “rumah” atau “tempat tinggal” bagi ratusan biota laut yang beraneka ragam bentuk, dan jenis serta warna yang sangat mengagumkan. Keindahan inilah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk datang berenang di antara bangkai-bangkai kapal karam tersebut.
Selain misteri dan keindahan taman lautnya, para wisatawan juga dapat menyaksikan matahari terbit (sunrise) dan terbenamnya matahari (sunset) pada satu posisi yang sama. Di pulau ini, wisatawan juga dapat menikmati kelezatan berbagai macam seafood segar yang dimasak dengan cara yang cukup unik, yaitu diletakkan di atas tempurung kelapa kemudian ditutupi dengan daun pohon yang tumbuh di sekitar pulau. Dengan cara demikian, aroma asap arang tempurung kelapa tersebut segera tercium dan dapat menggugah selera makan.

C. Lokasi
Pulau Samalona termasuk ke dalam wilayah Kota Makassar, tepatnya di Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

D. Akses
Pulau Samalona berjarak sekitar 6,8 km dari Kota Makassar, dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 - 30 menit dengan menggunakan speed boat berkapasitas maksimal 12 orang dengan biaya berkisar antara Rp. 250.000,00 sampai Rp. 350.000,00 pulang-pergi.

E. Akomodasi dan Fasilitas
Di lokasi ini tersedia penginapan sederhana berbentuk rumah pangggung yang dapat menampung sekitar 20 orang dengan tarif antara Rp. 150.000,00 hingga Rp. 250.000,00/rumah/malam. Selain itu, juga tersedia beberapa warung makan yang menyediakan aneka ragam seafood segar, dengan harga berkisar antara Rp.15.000,00 sampai Rp. 20.000,00/porsi.

Sumber : http://www.wisatamelayu.com

02 March 2009

Pantai Losari

A. Selayang Pandang
Pantai Losari merupakan icon Kota Makassar. Dulu, pantai yang panjangnya kira-kira satu kilometer ini pernah dijuluki sebagai pantai dengan meja terpanjang di dunia, karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang tanggul pantai. Kini, warung-warung tersebut telah direlokasi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari kawasan wisata. Pemerintah Kota Makassar telah mempercantik pantai ini dengan membuat anjungan seluas 100 ribu meter persegi, sehingga tampak lebih indah, bersih, bebas polusi dan nyaman untuk dikunjungi. Obyek wisata ini paling ramai dikunjungi pada sore hari, antara jam 15.00 hingga jam 21.00 WITA.

B. Keistimewaan
Pantai Losari memiliki keunikan dan keistimewaan yang sangat mempesona. Salah satu keunikannya adalah para pengunjung dapat menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari di satu posisi yang sama. Keistimewaan obyek wisata ini adalah para pengunjung dapat menikmati indahnya deburan ombak yang memecah tanggul pantai dan kesejukan “angingmamiri” yang bertiup sepoi-sepoi, sambil menyaksikan detik-detik terbenamnya matahari secara utuh di balik cakrawala, yaitu mulai dari perubahan warna hingga pergeseran posisinya sampai benar-benar hilang dari pandangan.
Para pengunjung juga dapat menikmati berbagai macam makanan laut yang masih segar. Di sebelah selatan anjungan Pantai Losari, terdapat sebuah kafe dan restoran terapung yang menggunakan kapal tradisional Bugis-Makassar “Phinisi” dengan menu bervariasi, seperti masakan ikan pari, cumi-cumi dan lobster dengan harga berkisar antara Rp 7.500,- hingga Rp 25.000,- per porsi. Di samping itu, para pengungjung dapat mencicipi berbagai jenis makanan khas Kota Makassar, seperti pisang epek, pallu butung, pisang ijo, coto Makassar, sop konro, dan lain-lain. Keistimewaan lainnya adalah para pengunjung dapat mengakses internet secara gratis melalui hot spot di sepanjang Pantai Losari.

C. Lokasi
Pantai Losari berada tepat di jantung Kota Makassar, yaitu di Jalan Penghibur, yang terletak di sebelah barat kota Makassar, Sulawesi Selatan.

D. Akses
Letak Pantai Losari sangat strategis, sehingga mudah untuk diakses. Dari pelabuhan Sukarno Hatta Makassar, pantai ini dapat ditempuh sekitar 15 menit dengan mobil atau motor. Jika berangkat dari Bandara Udara Hasanuddin, dapat ditempuh sekitar 45 menit dengan menggunakan mobil atau motor.

E. Harga Tiket Masuk
Pantai Losari merupakan tempat rekreasi cuma-cuma (gratis) bagi masyarakat umum.

F. Akomodasi dan Fasilitas
Di sekitar obyek wisata tersedia berbagai jenis kendaraan, seperti: bus, taksi, dan becak yang siap mengantar para pengunjung berkeliling menikmati suasana Kota Makassar. Di sepanjang Jl. Penghibur juga tersedia fasilitas penginapan mulai dari wisma hingga hotel berbintang, restoran, kafe, rumah sakit, warung kopi, dan berbagai tempat hiburan lainnya, dan semuanya menghadap ke arah laut lepas. Di Jl. Somba Opu, tidak jauh dari obyek wisata, terdapat pusat perbelanjaan kerajinan emas dan souvenir khas Kota Makassar.

Sumber : http://www.wisatamelayu.com

Wisata Makassar

Sebagai kontras antara yang lama dan baru, perahu kayu berlayar diantara tanker raksasa modern dekat pantai di sepanjang pesisir Kota Makassar. Perjalanan 20 menit dengan becak dari pusat kota akan membawa anda ke pelabuhan Paotere. Di luar pelabuhan, aktivitas kota yang tersibuk di seluruh Makassar, pria dan wanita membeli dan menjual berbagai macam barang, dan anak kecil berlarian ke sana ke mari melambaikan tongkat dengan perahu kecil dan mobil di ujung talinya.

Di dalam pelabuhan, sebuah dok panjang yang dicadangkan untuk perahu Bugis yang besar (phinisi), pemandangan menakjubkan di galangan kapal dengan haluan yang berlekuk, mengarah ke atas dan tiang yang besar membentuk simetri yang sedap dipandang mata. Namun kapal kayu besar ini berada di sana tidak hanya sekedar untuk alasan keindahan, pekerja mereka bekerja keras mem bongkar dan menaikkan muatan. Pelaut telanjang kaki berjalan di gelondong kayu yang panjang - yang dulunya sebuah pohon - diantara dek kapal dan dok dengan keseimbangan yang sangat baik tanpa mengindahkan goyangan dari gelondong.

Kapal-kapal kecil tersebut merupakan bukti nyata dari karakter masyarakat Bugis dan Makasar yang asli. Sebuah keluarga menaikkan minyak dan air untuk kepulauan mereka yang terpencil berjarak sehari berlayar. Pelaut yang lain menceritakan pelayaran dari Sulawesi ke Timor dan yang lain menjalankan tugas rutin ke Sumatra. Dua pria bersarung dibalut kulit yang kelam, dengan bangga memperlihatkan awak kapalnya yang terdiri 4 anak perempuan dan istri mereka masyarakat yang gigih. Walaupun penampilannya keras, namun kehangatan dan persahabatan tetap terlihat meyakinkan bahwa setiap kapal akan mengundang anda untuk turut berlayar di pelayaran mereka selanjutnya. Kembali kekota, benteng Rotterdam (Fort Rotterdam) menandai peninggalan bersejarah kota. Dibangun pada tahun 1545 oleh kerajaan lokal Goa, Benteng Rotterdam yang letaknya di tepi laut direbut dan dibangun kembali pada tahun 1667 oleh Belanda. Dinding luar yang tebalnya 2 meter dan tinggi 7 meter membentuk kotak yang besar seperti seekor penyu. Di setiap sudut dan pintu utama dibuat benteng pertaha- nan yang menonjol ke luar dalam bentuk berlian, membuat benteng sulit ditundukkan sehingga Belanda dapat bertahan di sana selama ratusan tahun.

Hingga kini, benteng masih menjaga laut Makassar dan mempertontonkan contoh besar dari hasil renovasi arsitektur kolonial Belanda. Tempat itu juga merupakan pusat kebudayaan, musium hidup untuk Sulawesi Selatan.Di Makassar, bangunan peninggalan Belanda masih dapat ditemukan, walaupun beberapa bangunan tua yang indah diantaranya telah dihancurkan demi arsitektur modern. Walaupun demikian, rumah peninggalan Belanda bisa di temukan di jalan jalan sempit di pusat kota sekitar benteng Rotterdam. Dengan populasi Cina yang besar, kota ini juga memiliki banyak bangunan Cina termasuk empat kelenteng Buda yang berwarna warni.Di Kota Makassar, terdapat makam peninggalan dari satu pahlawan terbesar di Indonesia. Anak dari Sultan Jogjakarta, Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap Belanda dalam perang Jawa di tahun 1825 - 1830. Ditipu oleh Belanda kemudian dibuang ke Makassar hingga akhir hayatnya. Sebuah silsilah keluarga digambarkan di makam memperlihatkan bahwa keluarganya telah tinggal di Makassar.

Di sore hari, disepanjang pantai Losari anda akan menemukan suasana hangat dari warga kota beserta aktifitasnya. Disisi selatan anda bisa menemukan lokasi pujasera yang tertata di laguna Metro, dengan keharuman pisang epe dan ikan bakar memenuhi udara. Dalam suasana karnaval diantara warung makanan, penduduk Makassar bertemu di sini, duduk bersama teman-teman dan orang asing untuk menikmati makan malam. Makassar juga memiliki kehidupan malam yang ramai seperti klub malam, tempat karaoke dan tempat bermain bola sodok.Kerajinan tangan Toraja seperti ukiran tau tau dari kayu kecil, kotak bambu berukir, dan baki Toraja merupakan suvenir yang indah. Porselin antik dan belanga celadon dapat juga ditemukan, dan di jalan Sombu Opu, adalah tempat perhiasan emas dan perak.

Sulawesi menghasilkan dan mengekspor beberapa kopi terbaik di dunia, jadi melancong ke pabrik kopi kecil di Makassar tidak bisa dihindari. Di dalam pabrik, pekerja membungkus dan menggiling kopi Arabica dan Toraja. Bila anda memperlihatkan rasa tertarik, maka pekerja akan memberikan contoh kopi segar mereka yang terbaik untuk anda cicipi. Walaupun contoh itu gratis, anda akan terdorong untuk membeli setidak-tidaknya sekilo untuk perjalanan pulang - sebuah kenangan yang sedap dan harum akan pintu gerbang ke Timur.Makassar memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata, karena disamping sebagai pusat pengembangan dan perjyanan juga sekaligus , sebagai pintu gerbang di Kawasan Timur Indonesia. Kota Makassar banyak memiliki potensi wilayah, seni budaya dan sejarah yang dapat dikembangkan menjadi obyek dan days tarik wisata (ODTW).

Daftar nama-nama obyek/daya tarik wisata yang ada di Kota Makassar berdasarkan pengamatan di lapangan dan pengumpulan data dari beberapa instansi yang terkait seperti dari Kanwil Deparsenibud Propinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pariwisata Kota Makassar, Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan, dan Museum La Galigo.Menurut data eksisting trend perjalanan wisata dalam lingkup Kota Makassar oleh Dinas Pariwisata Kota Makassar tahun 1998/1999, menunjukkan bahwa ada 4 (empat) paket trend, perjalanan wisata yang disediakan yaitu; City Tour, Sight Seeing Tour, Sea Recreation, Journey/Adventure. Adapun bagian dari paket - paket tersebut adalah :

a. City Tour (perjalanan dalam Kota)- Benteng Ujung pandang (Fort Rotterdam) - Monumen Mandala - AI Markaz AI Islami- Masjid Raya- Makam Diponegoro - Balang Tonjong

b. Sight Seeing Tour (Menyaksikan keindahan) - Somba Opu Souvenir - Pantai Losari - Pelabuhan Pinisi Paotere - Makam Syech Yusuf (Tuanta Salamaka)

c. Sea Recreation (Perjalanan Wisata Bahari)

- Pulau Kayangan Jarak lokasi 2,5 mil (bisa dicapai 45 menit), Letak lokasi : Jl. Ujung Pandang, Kecamatan Ujung Pandang, Daya tarik untuk: berenang dan diving, panorama matahari terbenam, olah raga air, musik & pertunjukan, permainan anak-anak, akuarium

- Pulau Kodingareng Jarak lokasi 5 mil (60 menit), Letak lokasi : Kecamatan Ujung Tanah, Daya tarik diving, menemukan batu kayu, ikan hias, peninggalan Jepang

- Pulau Barrang Lompo, Jarak lokasi 7 mil (1 jam 30 menit), Letak lokasi di Kecamatan Ujung Tanah, Daya tarik : berenang, oseanorium, peninggalan Jepang

- Pulau Barrang Caddi, Jarak lokasi : 6 mil (1jam 15 menit), Letak lokasi Kecamatan Ujung Tanah Daya tarik berenang dan diving, oseanorium, peninggalan Jepang

- Tanjung Bunga, Jarak lokasi sekitar 3 kilometer (10 menit), Letak lokasi Kecamatan Tamalate, Daya tarik jet ski, atraksi hobbies

- Tanjung Merdeka, Jarak lokasi 3 kilometer (15 menit), Letak lokasi Kecamatan. Tamalate, Daya tarik volley pantai, memancing

- Pulau Lae-lae, Jarak lokasi : 1 mil (15 menit), Letak lokasi di Kec.amatan Ujung Pandang, Daya tarik pemandangan laut, panorama matahari terbenam, berenang, olah raga air - Pulau Lanjukang, Jarak lokasi sekitar 9 mil (1jam 45 menit), Letak lokasi Kecamatan Ujung Tanah

- Pulau Kodingareng Keke, Jarak lokasi sekitar 5 mil (60 menit), Letak lokasi di Kecamatan Ujung Tanah, Daya tarik untuk kegiatan menyelam, berenang, kerajinan kerang-kerangan

- Pulau Samalona, Jarak lokasi sekitar 3 mil (50 menit), Letak lokasi : Kec. Ujung Pandang, Daya tarik berenang, berjemur, matahari terbenam, biota laut, olahraga air

d. Journey/Adventure (Penelusuran/ petualangan) Perjalanan wisata dalam Kota menurut versi perusahaan biro/agen perjalanan wisata pada umumnya Kota Makassar hanya digunakan sebagai tempat transit sebelum menuju daerah tujuan wisata (DTW) yang ada diluar Kota Makassar.

Sesudah wisatawan tiba di Bandara Hasanuddin dan bertemu dengan pemandu wisata, langsung menuju Kota Makassar sambil menyaksikan pemandangan Kota, wisatawan kemudian makan siang direstoran, dan sesudah itu wisatawan langsung menuju daerah tujuan wisata yang ada di luar Kota Makassar, sesuai dengan paket yang dipilih. Sebagai pintu gerbang udara di kawasan Timur Indonesia, peranan Bandar Udara Internasional Hasanuddin menjadi tulang punggung sebagai pintu masuk wisatawan ke Makassar. Bandara ini melayani pener¬bangan domnestik dan Internasional, dan dapat didarati oleh Pesawat Jenis Boeing 747. T

erdapat setidaknya lebih dari 20 kali penerbangan dari dan ke Jakarta, yang dilayani oleh hampir seluruh Maskapai Pener¬bangan yang ada. Pengelolaan Banda Udara ini dibawah BUMN Angkasa Pura I.Bagi wisatawan yang melakukan perjalanan sendiri, tersedia fasilitas Taxi Resmi Bandara yang akan membawa anda ke Kota Makassar. Biaya sekali Jalan ke Kota, terbagi atas 3 Zona, yakni Zona I hingga Jembatan Tallo, biayanya Rp. 40.000, Zona II hingga Jalan Hertasning sebesar Rp. 45.000, dan Zona III hingga Jalan Cenderawasih sebesar Rp. 50.000. Bila tujuan anda di luar Zona ini, dapat dikonsultasikan di Loket Pendaftaran Taxi, di bagian Kedatangan Bandara Hasanuddin.

http://makassarkota.go.id

21 February 2009

Soppeng

Soppeng is one of the tercantik city in the province of South Sulawesi and
Is a former town past, have power region and the influence of a relatively
broad-diantarakerajaan other local kingdoms. This is in writings ancient people
buginese that is "Lontara". One of the cockroach's amazing that this city is the number of bats.
Bergelantungan on the tree while removing the vote regardless of lalulintas flow around them.